Artikel

Pentingnya Foto Dalam Artikel Blog

23.42.00


Haloo...ketemu lagi. Nggak terasa ya, tahun 2018 sudah setengah perjalanan lebih. Mumpung masih di minggu pertama bulan Juli, kembali memantafkan diri untuk aktif ngeblog setelah terlena bulan Puasa. Padahal terlenanya karena sibuk menata perasaan saja sik...nggak perlu dibahas deh..

Pernah nggak selama ini kalian membandingkan artikel di blog yang dilengkapi dengan foto dan tidak. Enakan mana( memangnya masakan ya...bilang enak segala).  Maksudnya sih lebih nyaman baca artikel tanpa foto atau artikel dengan foto, untuk artikel jenis yang sama?

Kalau menurut saya pribadi, sebuah artikel yang dilengkapi dengan foto penunjang itu lebih menarik daripada artikel tanpa foto. Apalagi fotonya bagus dan ada captionnya, akan lebih membuat saya tertarik untuk membaca artikel tersebut sampai selesai.

Fungsi foto dalam sebuah artikel di blog itu sebenarnya banyak lho, jangan dikira hanya untuk menarik pembaca membaca artikel kita saja. Berikut ini beberapa fungsi foto dalam sebuah artikel di blog :

1. Menarik pembaca
Sebuah artikel yang dilengkapi gambar penunjang akan membuat pembaca membaca artikel kita. Apalagi foto atau gambar yang ditampilkan di awal artikel bagus, tentunya akan membuat pembaca senang berkunjung ke blog kita. Terkadang blog yang artikelnya biasa saja jumlah pengunjungnya lebih banyak dari blog yang artikelnya bagus karena foto-foto di blog tersebut bagus-bagus.

2. Untuk memperjelas atau memperkuat artikel.
Foto dalam sebuah artikel bisa mewakili isi artikel itu. Misalnya, saat kita menulis tentang resep makanan, foto akan bisa semakin memperjelas bahkan memperkuat artikel kita dengan memperlihatkab bahkan yang dibutuhkan, beserta hasil akhir dari masakan kita.
Bagi blogger traveling, foto bisa memperjelas tentang keindahan suatu tempat.
Apalagi untuk artikel yang menulis tentang tutorial, kehadiran foto sangat diperlukan untuk memperjelas tutorial yang kita buat.

3. Sebagai jeda untuk membaca
Artikel yang panjang tentu membutuhkan waktu yang lama untuk membaca. Nah, dengan adanya foto, pembaca tentu tidak akan bosan membaca artikel kita. Karena pandangannya teralih sebentar ke foto yang kita sisipkan.


Bagi yang mempunyai koleksi banyak foto mungkin tidak akan masalah dalam menambahkan foto di artikelnya. Namun, bagi yang koleksi fotonya sedikit tidak perlu berkecil hati karena kita bisa menggunakan foto yang ada di Google.

Meski banyak foto di Google, kita harus hati-hati dalam menggunakan foto-foto tersebut karena terkadang foto tersebut ada hak ciptanya. Sebaiknya gunakan foto yang ada kode CCO nya. Apa itu CCO? Tunggu posting an berikutnya...


Artikel

Hidup Bukan Hanya Berdasarkan Angka-Angka di Sekolah

15.30.00


Selamat datang bulan Juli. Selamat menikmati libur sekolah bagi yang masih sekolah. Dan persiapan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya bagi yang meneruskan sekolah yang lebih tinggi.

Lalu bagi orang tua bagaimana?

Bagi orang tua yang memiliki anak masih bersekolah di sekolah yang sama, selamat bersenang-senang karena anak-anak di rumah. Tentunya rumah menjadi semakin ramai karena teriakan para ibu  melihat anaknya bertengkar dengan saudaranya. Atau mungkin para ibu semakin cerewet karena melihat anaknya hanya bermain handphone saja. Pasti para ibu mengakuinya hehe.

Sementara bagi orang tua yang mempunyai anak yang hendak memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, pastinya sedang disibukkan dengan persiapan anak memasuki sekolah baru. Baik persiapan materi maupun rohani. Setelah beberapa hari lalu sempat deg-degan menunggu pengumunan penerimaan siswa baru di sekolah pilihan anak. Rasa penasarannya lebih besar  dari pada menunggu perhitungan realcount pilkada. Ini benar lho, karena saya mengalaminya. Kalau pilkada bagi saya, siapapun yang menjadi pemimpin ya harus kita dukung supaya daerah kita bisa lebih baik. Sementara kalau penerimaan siswa baru berhubungan langsung dengan masa depan anak.

Kembali ke topik persiapan memasuki sekolah baru bagi anak saya. Meski dari awal sudah yakin diterima di sebuah sekolah favorite di daerah saya. Tapi sebagai orang tua tetap kawatir juga karena nilai nemnya standard. Semenjak awal sudah saya nasehati jika tidak diterima di sekolah yang dia kehendaki harus terima bersekolah di pilihan ke dua.

Untuk nilai-nilai sekolah semenjak dulu saya memang tidak menuntut harus menjadi yang terbaik. Karena semakin tinggi jenjang pendidikan semakin banyak juga pesaingnya. Bagi saya kehidupan ini bukan hanya terpaku  pada nilai-nilai sekolah saja. Namun, banyak faktor yang diperlukan dalam kehidupan ini supaya bisa maraih kesuksesan.

Apalagi anak saya dua-duanya laki-lali, sehingga lebih sulit untuk mengharapkan selalu nilai terbaik di sekolahnya. Sehingga saya tidak pernah menargetkan angka terhadap anak-anak. Yang selalu saya lakukan adalah terus memotivasi mereka untuk belajar.

Apakah saya tidak suka jika anak saya mendapatkan nilai terbaik?

Orang tua mana pun pasti akan bangga, jika nilai  sekolah anaknya baik, apalagi terbaik. Namun, jika itu sesuai dengan kemampuan anak. Jika tidak sesuai tentunya akan membebani mental si anak sendiri, yang efeknya tentu saja sangat tidak baik bagi tumbuh kembang anak.

Bagi saya pribadi, kehidupan ini luas, jadi tidak hanya tergantung pada nilai sekolah saja. Kesuksesan seseorang itu dipengaruhi oleh banyak faktor pendukung lainnya. Pintar di sekolah belum tentu menjamin kehidupan yang sukses bagi anak kelak. Apalagi tanggung jawab anak lelaki itu berat karena kelak mananggung hidup keluarganya. Karena itulah saya senantiasa mengingatkan pada anak untuk terus belajar di segala bidang. Tidak hanya di sekolah tetapi juga belajar memahami kehidupan ini dari kegiatan tiap hari.

Saat orang tua repot dan dia dimintai membantu, saya senantiasa mengatakan pada dia bahwa ini juga untuk melatih kamu baik dari ketrampilan maupun secara fisik. Misalnya saat dimintai tolong pergi ke sawah untuk menuang bensin atau solar ke mesin diesel, saat  mengeluh karena disuruh, maka saya mengatakan pada dia bahwa ini juga mengajari kamu tentang bagaimana susahnya menghasilkan padi yang kamu makan tiap hari. Atau saat dia diminta tolong mengantar jamur ke pengepul, itu untuk mengajari kamu tentang matematika tanpa melihat kalkulator. Semakin terbiasa kamu melakukannya semakin hafal berapa uang yang akan kamu terima meskipun jumlah jamur yang dibawa tidak sama.

Begitu pun saat dimintai tolong kakak saya untuk membantu di bengkel, saya senantiasa mengingatkan itu juga untuk menambah keahlianmu. Lihat saja teman-temanmu yang tidak punya kesempatan berlatih harus membayar mahal biaya sekolah untuk belajar otomotif.  Sementara kamu punya kesempatan luas untuk belajar, maka manfaatkanlah. Entah kapan ini akan berguna buat kamu. Alhamdulillah, di usia yang masih puber dia sudah paham seluk beluk mesin, hingga untuk bongkar pasang (turun mesin) dia sudah bisa mengatasinya.

Kembali ke  soal angka di sekolah itu memang penting. Karena jika terlalu kecil anak akan malu dan juga minder. Yang terbaik adalah terus memotivasi anak untuk berusaha lebih baik tanpa menargetkan pada mereka. Menurut pengalaman saya sendiri sebagai orang tua, teman-teman masa sekolah dulu yang terlihat biasa saja malah bisa sukses karena dia mau bekerja keras. Bukan, berarti yang pintar tidak bisa sukses. Mereka juga sukses, namun dalam bidang tertentu yang istilahnya sekarang dalam zona nyaman.

Maka sebagai orang tua kita hendaknya mampu membekali anak-anak kita berbagai ilmu baik di sekolah formal maupun ilmu kehidupan. Karena dua hal itu saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.


Artikel

Lebaran dan Ketupat

15.53.00

Foto : Pinterest

Mumpung masih dalam suasana lebaran, saya mengucapkan Taqabballahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum (semoga Allah menerima amalan saya dan kamu, amalan puasa saya dan kamu).  Dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan. Amin

Lebaran selalu identik dengan ketupat. Makanan ini biasanya di sajikan dengan lauk opor ayam atau sayur lodeh. di beberapa daerah bisa kita temui saat lebaran pertama. Sementara di daerah lain biasa disajikan pada hari ketujuh lebaran. Sehingga biasa disebut dengan Lebaran Ketupat.

Lebaran hari pertama dirayakan setelah kita menjalani satu bulan puasa wajib. Sementara Lebaran Ketupat untuk merayakan setelah kita menyelesaikan puasa sunah Syawal(dilaksanakan lebaran kedua sampai lebaran keenam).

Kenapa ketupat identik dengan Lebaran?

Ketupat dalam bahasa jawa disebut dengan "kupat" kepanjangan dari "ngaku lepat". Dalam bahasa Indonesia berarti mengaku salah. Juga kepanjangan dari "laku papat" berarti empat prilaku saat lebaran(mencerminkan empat sisi ketupat). Prilaku tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, laburan.

Lebaran berasal dari kata lebar yang berarti terbukanya pintu ampunan dan maaf secara lebar.

Luberan berasal dari kata luber atau melimpah. Karena melimpahnya kebahagiaan saat lebaran kita hendaknya berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang kurang beruntung dengan jalan sedekah dan zakat fitrah.

Leburan berasal dari kata lebur atau hancur. Dengan adanya lebaran diharapkan segala maaf dan kesalahan bisa lebur karena momen saling memaafkan.

Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Setelah momen lebaran hendaknya manusia bisa menjadi kembali putih baik dari hati maupun prilakunya.


Selain itu Ketupat ternyata juga memilik filisofi lho, apa saja, yuk simak
1. Cermin beragamnya kesalahan manusia.
Hal ini bisa dilihat dari kerumitan dalam membuat ketupat dari daun pohon kelapa.

2. Cermin Kesempurnaan
Bentuk ketupat sangat sempurna meski hanya terbuat dari daun kelapa. hal ini mencerminkan sifat manusia setelah menjalani puasa selama satu bulan, hendaknya bisa menjadi manusia yang sempurna pula.

3. Kesucian Hati
Ketupat setelah dibuka akan memunculkan wujud nasi putih yang kenyal. Hal ini mencerminkan hati manusia setelah hari Lebaran bisa suci kembali setelah saling memaafkan.



Oh..ya ngomong-ngomong sudah berapa kali kalian makan ketupat selama lebaran ini, hehehhe
Boleh kok bagi-bagi dengan saya,..
Selamat hari Raya, Mohon maaf lahir dan Batin.



Khasanah Islam

Sirup dan Bukber dalam Ramadan

15.44.00

Punya hutang itu rasanya nano-nano seperti permen saja. Meskipun itu hanya hutang tulisan. Ceritanya ODOP mengadakan RWC (Ramadan writing Challenge) untuk menerima anggota odop batch 6 tanpa perlu waktu dua bulan menulis. Anggota odop memang tidak diwajibkan untuk mengikuti, namun sebaiknya juga turut berperan serta. Di mana setiap harinya ada kata kunci untuk menulis. Berhubung banyak hal maka nulisnya dihutang-hutang.



Untuk Ramadan pertama kata temanya adalah Sirup. Tentunya semua orang sudah mengenalnya. Iklan berbagai jenis sirup sudah memwarnai media elektronik semenjak dua bulan sebelum puasa. Ya,  puasa dan idul fitri memang selalu lekat dengan minuman ini.

Sirup sendiri menurut arti katanya mempunyai dua versi yaitu yang pertama air gula yang agak kental, terkadang diberi esens dan diwarnai; setrup. Sementara arti yang kedua adalah merupakan obat berbentuk cairan berasa manis.

Sirup dalam bulan Ramadan memang sudah hal biasa. hampir tiap rumah memang menyediakan minuman ini sebagai minuman praktis. Tinggal menambahkan air dan es batu dan beberapa sendok sirup maka jadilah minuman dingin yang menyegarkan tenggorokan.


Bukber merupakan kata tema untuk ramadan hari kedua. Bukber sendiri merupakan singkatan dari buka bersama. Istilah ini awal mulanya digunakan oleh anak-anak muda saat mengadakan buka bersama dengan teman-temannya.

Namun, seiring berkembangnya jaman, istilah bukber tidak hanya digunakan oleh kaum muda saja tetapi juga digunakan oleh semua kalangan usia mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Bukber yang dimaksud ini bukan acara buka bersama yang rutin dilakukan dengan keluarga. Tetapi kegiatan ini mengacu pada acara buka puasa dengan teman, bisa teman sekolah, teman kerja atau dengan relasi lainnya.

Sekarang ini acara bukber memang sudah sangat familiar. Acara ini memang bisa merekatan kembali tali silahturahmi antar teman yang sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Selain itu bisa juga untuk menumbuhkan rasa solidaritas dalam berpuasa.




#RWCODOP2018
#onedayonepost
#komunitasodop

Like us on Facebook

Flickr Images