Randevous in Daegu

04.50.00


Randevous In Daegu



          Dengan hati sesak menahan segala perih, perlahan aku menuruni lereng danau ini. Biasanya, saat seperti ini, kamu selalu berjalan di depan kemudian memegang tanganku agar tidak jatuh terpeleset. Walaupun terjatuh, kamu akan selalu merentangkan kedua tanganmu untuk menampung tubuhku. Tapi, kini aku harus berjuang sendiri supaya bisa sampai di tepian danau.
            Dua tahun lalu,  selesai kuliah, aku ke perpustakaan mencari buku referensi tugas dari dosen …Karena keasyikan di dalam  perpustakaan,  saat keluar kondisi kampus sudah sepi dan teman-teman yang aku kenal sudah tidak ada lagi. Maka tidak akan ada tumpangan gratis ke tempat kos. Maklum sebagai mahasiswi perantauan apalagi dari negara yang berbeda, aku belum  banyak teman. Karena aku di sini atas bea siswa juga. Sengaja aku memilih jalan kaki dari pada naik taksi atau bis karena saat itu hari belum juga gelap.
             Sewaktu berjalan di tepian danau, aku melihat pantulan sinar matahari senja begitu indah menerpa air, warnanya yang keperakkan seolah menuntunku untuk menikmati kebesaran-Nya. Aku memang selalu suka dengan matahari saat senja, aku merasakan kedamaian yang begitu dalam. Perlahan aku mencoba menuruni lereng danau karena aku ingin menikmati sunset lebih dekat, agar bisa mengabadikan momen itu.  Karena keasyikan menikmati alam, aku tidak melihat lubang dalam di depanku. Dan tanpa ampun kaki ini terperosok ke dalam, reflek aku menjerit. Di samping kaget, aku juga kesakitan luar biasa. Dan, kamu yang datang pertama kali menolongku. Karena saat itu kamu juga sedang di tepi telaga menunggu umpan  pancing yang belum disentuh ikan.
           Semenjak  pertemuan itu kita selalu bersama kemana saja. Menjelajahi Korea dari gunung, pantai, hutan bahkan sekedar jalan-jalan di Pasar Daong  Daemun menikmati semangkuk Kimchi. Tapi, kenangan terbanyak di tempat ini. Tempat kita duduk menikmati senja sambil merancang cita-cita  masa depan.
            Aku terus berjalan di tepian danau, menyisir kenangan dua tahun  bersamamu. Di atas batu besar di tepian telaga ini, masih jelas guratan nama kita terukir. Padahal,  kau menguratnya satu tahun lalu. Katamu saat itu, biar ada yang membaca  nama kita kalau ada yang ke tempat ini. Ah, sebuah perkataan yang sederhana. Dan ternyata memang, satu tahun lebih tulisan itu masih dengan jelas terbaca. Ternyata air hujan yang turun belum mampu mengikir guratan itu. Pun tidak ada seorang pun juga yang ingin menghapusnya. Sama seperti hati ini yang tidak pernah akan menghapus namamu, meski tidak  bisa bertemu lagi.
            Hari ini aku lulus kuliah, itu juga berkat jasamu yang begitu telaten memberi semangat agar aku segera menyelesaikan kuliah. Supaya bisa segera kembali ke Indonesia bersama-sama untuk mewujudkan impian kita. Tapi, aku harus menghadapi kenyataan pahit, ternyata impian kita tidak akan pernah terwujud. Tadi malam sewaktu mau menjemputku untuk merayakan kelulusan, mobilmu mengalami kecelakaan.
            Tanpa terasa buliran bening mengalir di pipi mengenang tentangmu. Seharusnya saat ini kita tengah berada dalam kereta menuju bandara Incheon, kemudian beberapa jam selajutnya duduk di pesawat menuju negara tercinta.  Setelah itu, kamu akan mengantarku pulang untuk bertemu orang tuaku. Mengingat itu aku semakin tergugu dan terduduk dibawah batu besar. Impian itu tidak akan pernah terwujud, karena Allah  Swt telah memilih yang  terbaik untuk kita.  





Untuk yang berulang tahun tanggal 14 Agustus, “Selamat ulang tahun, semoga apa yang kamu harapkan tercapai.”

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images