Writing

Stop Plagiat : Terkenal karena Plagiat itu Semu

15.54.00

foto : pixabay

Tentunya kita masih ingat tentang Afi Nihaya Faradisa yang lebih dikenal dengan sebutan Afi, yang viral tahun  lalu. Status facebook pelajar SMA di Banyuwangi ini banyak menuai pujian dan  mengispirasi banyak orang serta berkat statusnya tersebut, Afi menjadi terkenal. Wajah pelajar ini sempat menghiasi berbagai media cetak dan elektronik, bahkan dia juga sempat bertemu dengan Presiden Joko Widodo karena status facebooknya tersebut. Tetapi, ternyata status yang diunggah di akun facebook tersebut merupakan hasil plagiat dari tulisan orang lain.

Writing

Pentingnya Judul dalam sebuah Karya Tulis

23.43.00


Pertama kali yang dilihat pembaca dari sebuah karya tulis entah itu buku, cerpen, novel, artikel atau jenis karya tulis yang lain adalah judul karya tulisnya. Karena pertama kali dilihat oleh pembaca, maka judul memegang peranaan penting dalam sebuah karya tulis.

Traveling

Masjid Ammar Wan Chai Tempat Muslim dari Berbagai Bangsa Berkumpul

21.21.00



Menemukan masjid di negara yang mayoritas penduduknya non  muslim seperti di negara Hong Kong memang tidak mudah. Namun, bukan berarti sulit. Apalagi negara Hong Kong sangat menghargai dan  menghormati kebebasan dalam menjalankan agama. Salah satu masjid besar di negara ini ini adalah Masjid Ammar  and Osman Ramju Sadick Islamic Center.

Motivasi

Tidak Perlu Menjadi Orang Lain untuk Sukses

21.19.00


Setiap manusia itu sesungguhnya dikaruniai kelebihan masing-masing. Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadari akan kelebihan tersebut. Bahkan,  kelebihan tersebut sering tenggelam karena lebih memandang kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Untuk menjadi orang suksespun kita tidak perlu menjadi orang lain, tetapi cukup menjadi diri sendiri.

Sebagai manusia biasa kita tentunya pernah kagum terhadap kesuksesan seseorang entah itu orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal. Terkadang dalam pikiran kita timbul pertanyaan bagaimana ya kok orang itu bisa sukses. Misalkan saja seorang teman sekolah kita tidak pintar dan juga bukan anak orang kaya, tetapi iya punya prestasi di bidang olah raga. Saat melamar pekerjaan dia diterima karena prestasi olah raganya tersebut. Sementara kita tidak ? itu mungkin menjadi pertanyaan kita. Padahal di balik kesuksesan mereka ada masa yang panjang untuk bisa meraih kesuksesan tersebut, sehingga mereka bisa memunculkan kelebihan yang mereka miliki.

Saat melihat di layar televisi banyak artis terkenal kadang memiliki wajah biasa saja, tetapi ia bisa sukses dengan bayaran yang sangat tinggi. Kenapa, mereka bisa terkenal dan bisa meraih kesuksesan tersebut. Jika kita mau mengamati dibalik kesuksesan mereka terdapat jalan yang panjang untuk meraih kesuksesan tersebut.

Setelah kita mengetahui faktor kesuksesan seseorang, tentunya kita menjadi sadar bahwa kesuksesan itu butuh pengorbanan dan waktu yang panjang untuk meraihnya. Dan, tentunya kita tidak harus meniru supaya kita bisa sukses seperti mereka.

Yang perlu  kita lakukan adalah mengamati potensi apa yang sebenarnya kita miliki dan bisa kita kembangkan. Karena setiap orang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Ada yang pintar olah raga, ada yang ahli komputer, ada yang ahli dalam perdagangan.

Mengenali kelebihan diri sendiri itu penting dibanding iri dengan kesuksesan orang lain. Setelah, kita mengetahui kelebihan yang kita miliki, kemudian kelebihan itu kita asah perlahan. Seiring berjalannya waktu dan kesungguhan dalam mengasah kelebihan kita itu insya Allah akan ada kesuksesan yang akan kita raih.





#onedayonepost
#odopbatch5
#don'tstopwriting








Motivasi

Ubah Ucapan Tidak Bisa Menjadi Belum Bisa untuk Sesuatu yang Belum Pernah kita lakukan

00.54.00


Ucapan itu seperti sebuah doa untuk diri kita sendiri. Saat kita mengucapkan kebaikkan, sesungguhnya kebaikkan itu juga akan kembali pada kita lagi.

Tentunya kita pernah mendapat pertanyaan dari seseorang, bisa tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, apa jawaban yang akan kamu berikan?

Misalnya seorang pelajar yang tahunya hanya sekolah dan belajar. Saat mendapat pertanyaan,"Kamu bisa masa sayur asem tidak?"
Jawaban otomatis dari kebanyakan pelajar  adalah tidak bisa.

Jawaban "tidak bisa" juga banyak diberikan untuk hal-hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Padahal ucapan "tidak bisa" itu seharusnya diberikan setelah kita berusaha melakukan pekerjaan tersebut, namun gagal untuk menyelesaikannya.

Lalu apa perlunya kita mengubah ucapan tidak bisa menjadi belum bisa untuk sesuatu yang belum pernah kita lakukan?
Karena "tidak bisa" dan "belum bisa" itu makna katanya berbeda. "Tidak bisa" berarti kita tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut, padahal kita belum mencoba melakukan pekerjaaan tersebut bisa atau tidak melakukannya. Sementara ucapan " belum bisa" berarti kita memang belum tahu bisa atau tidak mengerjakan pekerjaan tersebut.
Dengan mengucapkan " belum bisa " dengan sendirinya akan mendorong kita untuk mencoba melakukan pekerjaan tersebut.

Karena belum pernah melakukannya, maka dia akan berusaha melakukan hal tersebut dengan cara bertanya pada ahlinya atau mencari informasi dari berbagai sumber. 

Seperti dalam kelas onedayonepost tentang cerita bersambung minimal 10 episode ini, terus terang saya juga belum pernah membuatnya. Membuat cerpen saja bisa berbulan-bulan tidak selesai-selesai. Tetapi saat mendapat tantangan ini saya menyakinkan diri saya bisa. Meski saat awal nulis cerita belum tahu bagaimana jalan cerita selanjutnya, bagaimana endingnya. Tapi saya biarkan mengalir saja, dan Alhamdulillah bisa selesai meskipun banyak kekurangan didalamnya dan belum sempat mengedit lagi, kalau ini mungkin hanya cari alasan saja ya...

Ucapan "belum bisa" bisa menjadi motivasi bagi diri kita untuk melakukan sesuatu hal  yang baru. Dan, ini akan sangat baik untuk menambah ilmu dan pengetahuan kita.
Jadi, mulai sekarang ubahlah ucapan kita kearah yang baik supaya hasil yang didapat juga baik.




#onedayonepost
#odopbatch5

Cerbung

Cerbung : Pulang (Tamat)

00.32.00


Waktu serasa berjalan begitu cepat saat bersama orang-orang yang kita sayangi. Begitu juga yang aku rasakan saat ini. Dua minggu terasa baru kemarin saja aku sampai di rumah ini lagi.

Aku memandangi bunga mawar yang belum mekar sempurna. Namun, hati ini ingin sekali untuk memetiknya dan meletakkan di kamar, sehingga saat mekar sempurna aku langsung bisa melihatnya. Entah dorongan apa tangan ini terulur juga untuk meraih mawar itu.
"Jangan kau petik, mawar itu! Biarkan iya mekar terlebih dahulu." Suara Bapak menghentikan tanganku untuk memetik bunga itu.
"Kenapa kamu ingin memetiknya?"
"Aku ingin meletakkan di vas bunga di kamar. Sehingga besok saat aku bangun tidur, aku bisa langsung melihat bunga ini."
"Semua mahkluk hidup itu pada dasarnya memiliki fase yang sama, nduk. Ada kelahiran, berkembang lalu mati. Begitu juga bunga. Ada masa kuncup, mekar kemudian layu. Jadi biarkan bunga itu menjalani fase kehidupannya."

Aku mengerti yang dimaksudkan Bapak. Namun, entah mengapa tadi hati dan tangan ini seolah sudah bersekutu untuk merusak fase hidup bunga mawar demi keegoanku sendiri.

"Pesawatmu jadi lusa pagi terbangnya? Benar kamu ingin kembali ke sana lagi ?"
"Iya, Pak. Tenaga saya sangat dibutuhkan disana. Kami malah kekurangan tenaga."
"Terserah kamu kalau begitu. Itu sudah  menjadi pilihanmu. Bapak hanya bantu doa saja."

"Terima kasih, Pak." Aku mencium tangan keriput Bapak. Akhirnya beliau merestui juga.

Memang benar kok kata orang  tua itu kalau semarah-marahnya orang tua pada anak itu, suatu saat akan luluh juga.
"Tika, umur kamu sekarang sudah 26 tahun. Teman-temanmu di kampung ini hampir semua sudah menikah. Kapan kamu beri bapak cucu?"

Rasanya seperti minum pil pahit saja mendengar pertanyaan Bapak itu. Bingung mau jawab apa. Karena memang selama 5 tahun ini aku tidak menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Lalu lelaki mana yang mesti aku kenalkan.

"Heeemm..."
"Apa mungkin kamu mau balik sama Guntur lagi?"
"Nggak kok, Pak. Dia hanya main saja kok."
"Padahal Bapak sudah ingin menggendong cucu. Teman-teman Bapak sudah punya cucu semua, hanya Bapak saja yang belum."

Diam mungkin jalan terbaik menghadapi situasi ini. Mau bicara takut melukai perasaan Bapak, apalagi beliau baru saja sembuh.

"Bapak itu sebenarnya pikiran sama kerja kamu di sana. Kamu itu perempuan tinggal jauh dari sanak saudara. Masih juga tinggal di pedalaman. Kalau ada apa-apa dengan kamu siapa yang akan menjaga kamu?"

"Saya yang akan menjaga Kartika di sana, Pak."

"Dokter Amir?"
"Lho kalian sudah sailing kenal to ternyata. Tika, ini Amir anaknya teman Bapak yang lima tahun lalu ingin Bapak kenalkan sama kamu."

Aku diam tak percaya mendengar itu. Pantas saja selama ini dia begitu acuh, ternyata sebagai salah satu cara membalas perbuatanku dulu.

"Setelah lulus kuliah, saya memang mencari dimana Kartika bekerja. Saya takutnya kalau saya terus terang, dia malah lari lagi." Mata dokter Amir melirikku.
Jika tidak ada Bapak mungkin aku sudah mencubit dokter yang telah membuat hatiku terombang-ambing selama setahun ini.



***end***

#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Cerbung

Cerbung : Pulang (Bab 9)

00.40.00


Kondisi kesehatan Bapak terus mengalami peningkatan. Dan, akhirnya setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit, dokter memperbolehkan Bapak pulang. Tentu saja ini merupakan kabar gembira buat kami sekeluarga.

Dan, yang paling bahagia mungkin aku saat aku saat itu. Dengan dibawanya bapak pulang berarti besok aku bisa datang ke acara reuni sma. Tapi, bagaimana kalau Guntur benar-benar menjemput aku.

***
Belum banyak yang datang ke Cafe Asri, tempat di mana reuni di adakan. Sengaja aku datang lebih awal bersama Diana demi menghindari jemputan Dari Guntur. Dan, lelaki itu memang belum tampak di sini. "Mudah-mudah saja dia tidak datang." Pikirku sambil menyalami teman-teman yang sudah datang.
"Tika, bagaimana kabar kelapa sawitnya. Apa kamu tidak ada pemuda sana yang menarik hatimu. Hingga kamu pulang tetap menjomblo saja," ucap Dono, yang memang suka bercanda semenjak dulu.

"Penginnya sih gitu. Tapi aku takutnya kalian pada iri kalau aku pulang bawa salah satu putra daerah sana."

Si Dono yang memang berbakat menjadi pelawak semenjak dulu tidak berhenti bertingkah hingga suasana semakin rame saja. Hingga tanpa aku sadari ada seseorang yang selama ini aku hindari. 
"Tik, apa kabar?" Guntur tiba-tiba mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Cie-cie....suit-suit..." Suara teman-teman yang tahu aku salting habis saat itu.

Aku coba mengatur detak jantung ini supaya bisa berdetak normal. Mengambil sikap sebiasa mungkin meski sebenarnya tetap tidak bisa.

"Baik. Kamu sendiri gimana kabarnya? Oh, ya. Mana Sandra kok tidak diajak."
Aku bertanya pura-pura tidak tahu cerita tentang dia.

"Hei, Tik. Guntur ini masih jomblo. Sandranya menikah dengan orang lain."

"Kalian balikan saja deh." Ucap teman yang lain.

Suasana semakin rame sementara posisiku semakin tersudut. 

"Tik, nanti aku antar ya!" Bisik Guntur saat acara makan bersama. Aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu tanda belum tahu nanti.

***
Berhubung Diana ada perlu, maka dia harus cabut duluan dari acara reuni tersebut. Dan, aku tidak punya alasan lagi untuk menolak tawaran Guntur untuk mengantarku pulang.

Sore menjelang saat motor Guntur memasuki halaman rumah. Harum bunga-bunga seolah menyambut kedatangan kami. Dulu kami sering menghabiskan senja di teras rumahku sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kebetulan ayah Guntur adalah teman kerja Bapakku. Jadi, hubungan kami seolah sudah mendapat restu dari orang tua masing-masing.

Hingga datang Sandra, siswi pindahan dari kota yang menyukai Guntur. Lelaki mana tidak tergoda jika serial hari dimintai tolong untuk mengantar ke mana-mana. Dan, akhirnya Guntur pun terjerat oleh pesona Sandra.
"Tik, maafkan aku ya!"
"Tur, sudah berapa kali hari ini kamu mengucapkan kata itu. Maaf...maaf untuk apa?"
"Karena aku meninggalkanmu demi Sandra waktu itu."
"Haha...itu sudah lama berlalu. Aku tidak apa-apa kok."
"Benar. Kamu memaafkan aku?"
 Aku mengangguk mantap.

"Jadi kamu mau menerima aku lagi?"
"Maksudnya?"
"Aku akan melamarmu kalau begitu."

" Maaf. Memaafkan kamu, bukan berarti aku mau balikan sama kamu. Maaf. Aku sudah mempunyai calon di Kalimantan sana."

Guntur menunduk dalam. Dan akhirnya setelah berbasa-basi dia pamit.



#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Artikel

Postingan ke-100 awal Dari 1000 Postingan

23.59.00


Tulisan ini adalah postingan ke-100 di blog. Bukan sesuatu yang spesial sih sebenarnya. Tapi, bagi saya ini merupakan sesuatu yang berharga. Karena ini merupakan tercapainya satu keinginan dan awal untuk mencapai keinginan selanjutnya.

Akhir tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa menulis di blog itu harus tiap hari sampai minimal 100 artikel supaya bisa di indek mesin pencari Google. 

Dan, demi mengejar 100 postingan tersebut saya pernah mengagendakan akan menulis seminggu 3 kali. Saat itu postinngan di blog kurang dari 50 postingan. Perkiraan saya dalam 3-4 bulan sudah bisa 100 artikel. Tetapi, pada kenyataannya rencana menulis 3-4 Kali seminggu itu tidak bisa terpenuhi. Bisa 1 minggu sekali posting saja sudah bersyukur sekali. Saya pikir kapan sampai 100 nya kalau begini. Setahun mungkin juga belum akan tercapai postingan sampai 100.

Percayalah, saat kita punya keinginan dan berusaha untuk mencapai keinginan itu pasti ada jalan keluarnya. Alhamdulillah saya waktu itu dipertemukan dengan komunitas ODOP atau onedayonepost. Yaitu suatu komunitas untuk menulis satu posting an atau tulisan setiap hari di blog.

Sempat ragu untuk ikut program ini karena ya itu kadang nulisnya yang nunggu mood dan nunggu waktu longgar itu. Namun, akhirnya memberanikan diri mengikuti Odop. Dan, Alhamdulillah sekarang sudah memasuki minggu  terakhir. Berkat ikut Odop juga akhirnya saya bisa mempostingan ke-100 di blog saya.

Senang itu pasti ya sudah bisa mencapai satu tujuan. Tetapi ternyata postingan 100 di blog itu bukan apa-apa lho. Minggu lalu sewaktu BW ke blog teman yang menulis artikel untuk menulis 1000 artikel di blog supaya blog semakin mudah di indek Google untuk blog gado -gado seperti blog saya ini.

Bayangkan 1000 artikel itu penulisannya memakan waktu hampir 3 tahun kurang 3 bulan kalau menulisnya setiap hari. Sementara postingan blog saya baru 100 atau 1/10 saja dari  1000.

Ya memang seperti itulah semuanya butuh proses. Supaya bisa memanen hasilnya, kita pun terlebih dahulu harus menanamnya. Namun, tidak ada yang tidak mungkin selama kita tetap mau berusaha untuk meraihnya.

Don't stop writing



#onedayonepost
#odopbatch5


Cerbung

Cerbung - Pulang (Bab8)

23.42.00


Pertemuanku dengan Diana di lorong rumah sakit menjadi awal hubungan kembali dengan teman-teman sma yang lain. Hanya dalam hitungan  menit nomer teleponku sudah dimasukkan group whatsApp alumni sma satu angkatan.

Ada rasa bahagia bisa bercanda kembali dengan teman-teman. Ingat masa-masa usil dulu. Karena penasaran dengan seseorang di masa lalu ku coba mencari namanya di group ini. Ternyata namanya juga ada termasuk nomer teleponnya. Bagaimana kabarnya dia? Jadi menikahkah mereka setelah lulus kuliah? Atau bahkan sudah mempunyai dua anak?
Aku berusaha menepis bayangan lelaki itu. Dia hanya masa lalu, dia yang menaruh luka sangat dalam di hati ini.

Baru saja Kartika meletakkan handphonenya, tiba-tiba telepon itu bergetar pertanda ada pesan masuk.
"Tik, bagaimana kabarnya? Aku Guntur."

Kartika membaca pesan tersebut kemudian meletakkannya kembali. Untuk apa dia menghubungi aku lagi. Bukankah semua telah usai.

"Tik, maafkan aku ya! Aku tahu kamu masih marah. Besok minggu aku jemput ya untuk acara reuni!"

Kartika benar-benar merasa sangat kesal dengan Guntur. Apa pula maunya dia. Mau jemput segala lagi. Tapi, kalau dia menjemput aku berarti apa dia belum menikah atau mungkin dia sekarang sudah duda.

Kartika tidak mau terus menerus bertanya-tanya dalam hati. Dengan cepat dia mengambil teleponnya dan segera menekan nomer seseorang.

"Maaf, Diana. Ganggu kamu sebentar. Ehmmm. Mau tanya soak Guntur saja."

"Cieee...kangen ya. Atau pengin balikan?"

"Maksudnya? Apa dia belum menikah? Bagaimana dengan Sandra?"

"Tik, Guntur masih jomblo lho. Enam bulan setelah kepergianmu ke Kalimantan mereka putus. Sandra menikah dengan anak pengusaha."

"Ohhh...begitu ceritanya."
"Semenjak saat itu Guntur tidak pernah punya pacar lagi hingga sekarang. Dia sangat menyesal dulu meninggalkanmu."

"Terima kasih infonya ya, Diana. Aku mau melihat ayah dulu."

Saat melangkah di lorong rumah sakit, bayangan tentang Guntur hadir kembali. Namun, aku juga tidak ingin membalas pesannya. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.





#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Cerbung

Pulang (Bab 7)

18.44.00


Kepulanganku, ternyata bisa menjadi obat untuk Bapak. Terbukti, dua hari aku bersama beliau, keadaaannya berangsur-angsur membaik. Beliau sudah bisa duduk dan raut wajahnya juga sudah tidak pucat lagi.

Melihat itu aku  dan seluruh keluarga menjadi tenang dan tidak cemas lagi dengan kondisi Bapak. Di sela-sela waktu menunggu Bapak di rumah sakit aku langkahkan kaki menyusuri lorong rumah sakit yang sudah agak sepi. Karena memang belum masuk jam besuk pasien untuk malam hari.

Aku melangkah menuju taman yang ada di tengah-tengah bangunan rumah sakit memisahkan bagian gedung satu dengan gedung lainnya. Hati ini bermaksud ingin duduk sejenak menikmati harum bunga yang sedang mekar. setelah beberapa hari hati dan fisik terkuras dengan memikirkan kesehatan bapak.

"Eh, kamu Kartika, kan?"
"Iya, kamu...?" aku mencoba mengingat nama seseorang, namun ternyata aku gagal untuk mengingatnya. Yang ku tahu iya teman sma dulu.

"Aku Dinda. Dulu aku kelas C dan kamu di kelas A. Aku sekelas sama Guntur lho dulu. Masa  kamu lupa."

"Aku ingat tapi maaf lupa namamu..."

"Kamu kenapa disini? Siapa yang sakit?"

Bertemu dengan teman lama itu memang melenakan sekali. Begitu banyak cerita yang ingin disampaikan. Baik sewaktu masih satu sekolah dulu ataupun masa-masa setelah tidak bertemu lagi. Dan, satu nama yang disebutkan Dinda tadi seolah memutar kembali kenangan memakai seragam putih abu-abu.

"Kebetulan hari minggu ini alumi kita mau ngadain reuni di Kafe Citra. Kamu harus datang lho. Guntur juga datang lho." Mata Dinda berkedip menggodaku.

"Insya Allah, Aku usahakan datang."

"Ok, Aku melanjutkan pekerjaan dulu." ucap Diana melambaikan tangan meninggalkanku sendiri di taman rumah sakit itu. Ternyata teman sekolahku ini menjadi perawat di rumah sakit ini.

"Guntur..." menyebut nama leleki itu serupa membuka kembali luka lama yang sudah sembuh. Perlahan bayangan tentang lelaki itupun muncul satu persatu.






#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5



Cerbung

Pulang(Bab 6)

23.45.00


Gerimis tipis mengiringi ojek yang aku naiki memasuki gerbang Rumah Sakit Dr. Soedhono. Sebuah rumah sakit terbesar dan terlengkap fasilitas di kota  ini.

Setelah membayar ongkos ojek, segera kulangkahkan kaki menuju ruang ugd di mana terlihat beberapa petugas jaga untuk menanyakan ruangan tempat bapak dirawat.

"Malam, Mas! Maaf mau tanya, ruangan untuk penderita stroke di mana?"

"Di Block A, belakang UGD ini. Tapi jam besuknya besok pagi, Mbak."

"Saya tahu. Bapak saya dirawat disini sudah 3 hari. Dan, saya baru datang dari Kalimantan langsung ke sini."

Bersamaan dengan itu ada telepon masuk dari adikku yang menyuruhku menunggu di luar Ugd saja. Sebab dia sedang berjalan untuk menjemputku. Setelah berbasa-basi mengucapkan terima kasih pada petugas jaga, aku segera keluar menuju tempat yang disebutkan adikku. 

Kurang dari 10 menit pelukkan seseorang mengagetkanku.
"Kak, gimana kabarnya?"

Aku masih termangu dengan pelukan lelaki yang ternyata adikku ini. Lima tahun ternyata ternyata waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan pada tubuh adik semata wayangku ini.
Dulu dia masih duduk di bangku sma kelas 2, masih lugu dan sering malu-malu. Tapi, lihat sekarang, dia sudah menjelma menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab.

Sambil bercerita kami melangkah melewati pintu sempit di samping Ugd untuk selanjutnya menyusuri lorong-lorong sepi di rumah sakit menuju ruangan Bapak.

Aku berusaha menyiapkan hati saat memasuki ruangan tempat Bapak dirawat. Bagaimanapun keadaannya aku harus kuat. Nampak ibu duduk tertidur di kursi di samping ranjang. Lama aku tertegun memandangi lelaki di ranjang itu, beliau tergolek lemah dengan berbagai peralatan medis berada di sekujur tubuh itu. Padahal, lima tahun lalu, terakhir aku melihat dan melukai hatinya tubuhnya masih segar bugar.

"Bapak, maafkan Tika!" Tetes air mata tak bisa aku bendung sambil kucium tangannya yang keriput. Hati ini begitu perih melihat kenyataan ini. Jika saja aku bisa menukar waktu untuk kesehatan Bapak.

" Nduk, kamu pulang." Suara Bapak perlahan menyapa sambil membalas mengelus kepalaku.

"Bapak sudah sembuh kok. Kamu tidak perlu sedih."

Aku semakin tergugu mendengar itu. Ternyata ketakutanku selama ini untuk pulang adalah salah. Mereka tetap orang terbaik yang aku milikki...



#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Cerbung

Pulang(Bab 5)

23.51.00


Pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Supadio. Masih 8 jam  perjalanan lagi yang akan aku tempuh untuk sampai kampungku di lereng Gunung Lawu.

Begitu naik pesawat menuju Surabaya ku coba untuk memejamkan mata sejenak. Beberapa hari ini aku kurang bisa istirahat setelah mendengar kabar Bapak sakit. Aku merasa akulah penyebab Bapak menderita tekanan darah tinggi yang berujung ke struk itu.

Suara Pramugari untuk memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat membangunkanku dari tidur. Ah, ternyata lama juga aku tertidur tadi.

Aku melangkah keluar dari Bandara Juanda dengan mantap. Setelah negosiasi dengan sopir taxi bandara akhirnya harga disepakati dan aku segera naik ke taxi itu.

Bersamaan dengan azan Magrib taxi memasuki terminal terbesar di Surabaya ini. Suasana terminal cukup rame mungkin Karena akhir pekan. 

Segera kuarahkan langkah menuju parkiran bus jurusan Madiun. Tak  banyak penumpang yang mengantri untuk naik bis, berbeda sekali dengan kondisi 6 tahun lalu saat aku masih kuliah. Jumlah penumpang membludak sementara armada sedikit. 
"Kacang-kacang, minuman-minuman..."
Suara khas pedagang asongan menawarkan dagangannya. Dan, ini mungkin ciri khas terminal di Indonesia.

Waktu hampir pukul 12 malam saat aku sampai di Madiun. Akhirnya aku sampai juga di kota di mana Bapakku di rawat. 
"Mbak, langsung saja ke Rumah Sakit Soedono." Bunyi pesan yang dikirim adikku.
Ku percepat langkah keluar untuk mencari taxi atau pun ojek untuk mengantarku segera ke rumah sakit.


#tantangancerbung
#tamtanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Pulang (Bab 4)

23.04.00


Speadboat melaju dengan kecepatan penuh di aliran sungai Kapuas. Pagi ini, Pras menepati janjinya kemarin untuk mengantarku ke kota kabupaten lebih awal, supaya tidak ketinggalan pesawat lagi.

Cerbung

Pulang (Bab 3)

23.56.00


Tak banyak barang yang ku bawa. Hanya  tas ransel berisi beberapa potong baju dan peralatan pribadi lainnya. Ingin sebenarnya aku membawa oleh-oleh ikan asin, tapi aku tidak ingin membuat orang di pesawat mengeluh karena baunya yang menyengat.

Cerbung

Pulang (Bab 2)

23.55.00


Sungai Kapuas pagi ini cukup tenang saat aku mulai mendayung sampan. Sinar matahari menerobos celah-celah pohon untuk ikut menyapa air sungai.

Perlahan sampan kecilku menyusuri aliran sungai yang akan mengantarkanku ke tempat aku mengabdikan diri. Yah, tempat inilah yang ditentang bapak lima tahun lalu. Sebuah puskesmas kecil di salah satu wilayah kabupaten Kapuas Hulu.

"Pagi, Bu Dokter. Mau berangkat kerja ya?." Teriakkan seorang warga yang sedang mencuci di sungai membuyarkan lamunanku tentang bapak.

"Iya, Antuha. Nyuci bajunya yang bersih ya! Hati-hati kalau ada yang hanyut."

Dulu, waktu pertama kali datang me tempat ini. Antuha ini paling tidak suka atas kehadirannya. Karena, dia merupakan salah satu dukun yang disegani di daerah ini. Namun, seiring berjalannya waktu, Antuha telah berubah sikap.

Perjalanan menuju puskesmas tidak pernah membuatku bosan, melihat keseharian masyarakat di sepanjang sungai ini sunggah mengasikkan. Bagi masyarakat sini, sungai ini merupakan segalanya.

Suka dan duka selama Lima tahun tanpa terasa terlewati. Hingga kabar tentang sakitnya Bapak, membuat aku menginggat kembali tentang suasana rumah. Yah, bagaimana pun sikap Bapak, beliaulah yang telah membuat aku menjadi seperti saat ini.

Tampa terasa sampanku sudah sampai di tepian. Langkahku mantap, aku hendak minta izin cuti untuk mengunjungi Bapak. Izin cuti itu hanya bisa diberikan oleh Dokter Amir, seorang dokter yang sedang menjalani PTT.

Suasana puskesmas pagi itu cukup ramai karena sedang diadakan imunisasi  untuk mencegah penyakit difteri. Berhubung petugas yang menangani imunisasi bisa menghendel. Maka, aku teruskan langkahku menuju ruangan Dokter.

Setiba didepan pintu, hatiku mulai gamang, akankah dokter ini mau mengijinkan aku untuk cuti. Karena, rasa disiplin Dan etos kerjanya begitu tinggi.
"Took...tokk. Permisi, Dok."
"Iya. Ada apa? Bukankah kamu seharusnya didepan membantu Ria." Belum sempat mengutarakan niat Dokter Amir sudah mencecarku dengan pertanyaan.

"Maaf, Dok. Saya mau minta cuti."
"APA! Cuti. Kamu nggak salah bicara. Do sini sedang banyak kerjaan dan kamu mau minta cuti."

Entah mengapa semenjak kehadiran Dokter Amir di puskesmas itu satu tahun lalu, Kartika merasa tidak nyaman berada di likungan puskesmas. Apa yang dilakukan selalu salah di mata dokter ini. Dia memilih tugas luar mengunjungi warga di pelosok-pelosok daripada harus berhadapan dengan dokter sok ini.

"Tapi...saya belum pernah cuti selama kerja disini. Saya..." Kartika berusaha menahan air matanya supaya tidak menangis di depan dokter ini.

"Bukan masalah kamu pernah cuti atau tidak. Tetapi kita kekurangan tenaga di sini." Suara Dokter Amir mulai melunak melihat raut wajah Kartika yang pias.

"Saya tahu, Dok. Tapi Bapak saya masuk rumah sakit kemarin. Saya disuruh cepat pulang. Saya...takut terjadi apa-apa." Kartika bicara sambil meneteskan air Mata. Bayangan Bapaknya menari-nari di kepalanya.

Dokter Amir memandang Kartika, sebenarnya dia juga iba melihat Kartika seperti itu.
"Baiklah kalau begitu. Kamu cuti satu minggu saja bagaimana?"
"Dua minggu bagaimana. Saya perjalanan pulang pergi saja 4 Hari. Masa dirumah hanya 3 Hari.

"Kamu itu sudah dikasih ijin. Masih juga menawar. Ya sudah, terserah kamu. Yang penting segera kembali me sini begitu urusan selesai."

"Baik, Dok. Terima kasih untuk ijinnya."

Kartika melangkah keluar ruangan dengan bahagia. Akhirnya dia bisa mudik juga.



#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

Cerbung

Pulang (Bab 1)

23.53.00


Pandangan mata Kartika tidak lepas dari layar Android berlayar 5 inchi yang dipegangnya sejak sore. Pesan yang masuk siang tadi belum juga menemukan jawaban yang pas untuk membalasnya. Tetapi pesan adiknya mau tidak mau harus segera dijawab. 
"Mbak Tika, tolong pulang secepatnya. Bapak masuk rumah sakit." Itu tulis adikku.

Bapak sakit. Rasa-rasanya hati ini tidak percaya. Lelaki seteguh dan sekeras bapak bisa sakit, apalagi masuk rumah sakit, ini merupakan hal yang tidak masuk akal. Tapi tidak mungkin adiknya berbohong apalagi mengatakan bapak sakit. Itu merupakan suatu pantangan bagi keluarga kami.

Masih jelas dalam ingatan lima tahun lalu saat aku baru saja diwisuda dan berniat mengabdikan diri di pedalaman Kalimantan. Namun, bapak dengan tegas melarang niat tulusku.
"Aku nyekolahin kamu sampai lulus kuliah bukan untuk bekerja di pedalaman. Lebih baik kamu kerja di kota ini saja, sambil meneruskan usaha bapak." Kata bapak sambil menatapku dengan pandangan menghujam.

Tidak ada yang berani membantah perkataan Bapak. Apa yang dikatakan beliau, itu pula yang harus dilakukan. Tetapi, niat untuk mengabdikan diri di pedalaman Kalimantan sudah bulat. Apalagi surat penugasanku juga sudah keluar. Mau tidak mau, aku harus menjawab perkataan Bapak. Dan, itu berarti perang akan terjadi di rumah ini.
"Maaf, Pak. Di kota ini sudah terlalu banyak bidan. Sementara di pedalaman sana tenaga saya sangat dibutuhkan Karena petugas medisnya sangat kurang." Ku coba berkata selembut mungkin supaya Bapak tidak semakin marah.

Namun, ternyata perkiraanku salah. Bapak tidak terima perkataannya dibantah.
"Braaaak..." Bunyi meja didepanku yang digeprak Bapak.
"Kamu berani melawan Bapak? Kamu mau makan apa di sama. Sawit, rotan atau berburu binatang. Uang gajimu hanya akan cukup buat makan seminggu."

"Tapi....Pak?"

"Bapak tetap tidak setuju kamu kerja di sana. Sebab kamu akan Bapak jodohkan dengan anak Om Darto, sahabat Bapak waktu SMA dulu. Anaknya sekarang masih kuliah S2 di Jakarta."

"Apa...dijodohkan?"

"Yaa...Dan kamu harus menerimanya."

"Tidaak. Saya tetap pergi ke Kalimantan minggu depan. Ini surat penugasan saya." Aku perlihatkan surat penugasan itu pada Bapak.

'Kalau kamu mau pergi tidak perlu menunggu minggu depan. Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini!" Teriak  Bapak sambil meninggalkanku yang menangis.

Ibu dan adikku yang melihatnya hanya bisa diam dan ikut menangis bersama.

Akhirnya, saat itu juga aku membereskan barang-barang keperluanku. Diiringi tangisan Mama dan adik lelakiku, sore itu aku mantap meninggalkan rumah tempat aku berlindung sejak kecil.

Dan semenjak itu pula aku meninggalkan rumah. Hingga sekarang hampir lima tahun berlalu.


#onedayonepost
#odopbatch5



Motivasi

Meremehkan yang Kecil Setelah Mempunyai yang Besar

23.18.00


Uang satu juta tidak pernah bisa dikatakan satu juta jika kurang lima puluh rupiah saja. Penyebutannya akan tetap sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus lima puluh   rupiah. Tetapi, kita sering kali meremehkan uang lima puluh rupiah dengan membiarkannya tercecer di laci atau di kotak khusus recehan.

Tips Sehat

Manfaat Brokoli untuk Tubuh

18.08.00


Sayuran brokoli harganya memang agak mahal dibanding sayuran lainnya. Tapi, jika melihat kandungan gizi yang terdapat dalam brokoli, kiranya tidak rugi jika mengkonsumsi sayur ini.

Khasanah Islam

Keutamaan Hari Jum'at

00.22.00


Dalam islam, semua hari itu baik. Tidak ada hari  buruk. Bahkan, dalam satu minggu ada satu hari yang diutamakan atau  diistimewakan, yaitu Hari Jum'at.

Keistimewaan Hari Jum'at dibanding hari lainnya adalah
1. Pahala kebaikkan dilipatgandakan
Jika kita berbuat kebaikan di hari ini akan mendapat balasan pahala berlipat.

2. Waktu mustajab untuk berdoa
Jika kita berdoa di hari ini, kemungkinan doa kita untuk dikabulkan lebih besar.

3. Merupakan pembeda antara umat Muslim dan non muslim.
Hari Jum'at merupakan hari raya mingguan umat muslim. Di mana kaum lelakinya diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jum'at.

4. Hari datangnya kiamat
Kiamat itu pasti datang, hanya soal waktu. Menurut beberapa hadist menyebutkan bahwa kiamat akan terjadi di Hari Jum'at, sehingga umat manusia dianjurkan memperbanyak amalan di hari itu.

Untuk meraih beberapa keistimewaan di Hari Jum'at tersebut ada hal-hal yang perlu di lakukan yaitu :
1. Memperbanyak bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad Shollahu a'lai wassalam.

2. Memperbanyak bacaan istighfar dan bacaan dzikir yang lain.

3. Membaca Surat Al-Kahfi




Cerpen

Si Jantan Ngambek

23.49.00


Suara ribut-ribut keluarga Pak Sastro pagi itu tidak membuatku terusik. Tidak juga membuatku sekedar menengadahkan kepala untuk mencari penyebab  keributan itu.

Writing

Menulis Antologi Langkah Awal Menulis Buku Solo

00.01.00


"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau  bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis. (Imam Al-Ghazali)

Kata mutiara dari ulama besar Imam Al-Ghazali di atas menjadi salah satu motivasi dalam menulis.

Seseorang yang menekuni dunia menulis  pastinya berharap bisa menulis sebuah buku solo sebagai bukti  untuk mencatat namanya, supaya bisa dikenang di kemudian hari.
"Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah tulisan yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti. (Ali bin Abi Thalib)
Kenapa seorang penulis harus menulis buku. Karena dalam setiap buku yang terbit akan terdapat nomer ISBN(International  Standard Book Number) yaitu kode pengindetifikasian buku yang bersifat unik. ISBN memuat judul buku, nama pengarang, penerbit dan kelompok penerbit. Satu buku akan memiliki nomer ISBN yang berbeda dengan buku lain.

Jika kita mampu menulis buku sendiri atau buku solo sebaiknya memang menulis sendiri. Namun, jika merasa belum mampu menulis buku sendiri bisa dengan menulis buku antologi dengan beberapa orang.

Buku antologi adalah buku yang penulisnya terdiri dari beberapa  orang. Isi buku biasanya satu tema, bisa berupa cerpen, pengalaman mengenai suatu hal yang pernah terjadi, cerita perjalanan DLL.

Dalam buku antologi biasanya naskah berasal dari seleksi tulisan dari beberapa orang yang mempunyai keinginan untuk ikut antologi tersebut. Terkadang karena banyaknya peserta, maka tulisan yang bagus saja yang bisa masuk atau layak cetak yang digunakan.

Dengan mengikuti antologi akan melatih kita untuk menulis sebaik mungkin supaya bisa lolos seleksi dan nama kita bisa dicantumkan dalam buku tersebut.

Banyak penulis buku best seller yang mengawali langkahnya dengan menulis buku antologi.


#onedayonepost
#odopbatch5

Like us on Facebook

Flickr Images