Cerbung : Pulang (Tamat)

00.32.00


Waktu serasa berjalan begitu cepat saat bersama orang-orang yang kita sayangi. Begitu juga yang aku rasakan saat ini. Dua minggu terasa baru kemarin saja aku sampai di rumah ini lagi.

Aku memandangi bunga mawar yang belum mekar sempurna. Namun, hati ini ingin sekali untuk memetiknya dan meletakkan di kamar, sehingga saat mekar sempurna aku langsung bisa melihatnya. Entah dorongan apa tangan ini terulur juga untuk meraih mawar itu.
"Jangan kau petik, mawar itu! Biarkan iya mekar terlebih dahulu." Suara Bapak menghentikan tanganku untuk memetik bunga itu.
"Kenapa kamu ingin memetiknya?"
"Aku ingin meletakkan di vas bunga di kamar. Sehingga besok saat aku bangun tidur, aku bisa langsung melihat bunga ini."
"Semua mahkluk hidup itu pada dasarnya memiliki fase yang sama, nduk. Ada kelahiran, berkembang lalu mati. Begitu juga bunga. Ada masa kuncup, mekar kemudian layu. Jadi biarkan bunga itu menjalani fase kehidupannya."

Aku mengerti yang dimaksudkan Bapak. Namun, entah mengapa tadi hati dan tangan ini seolah sudah bersekutu untuk merusak fase hidup bunga mawar demi keegoanku sendiri.

"Pesawatmu jadi lusa pagi terbangnya? Benar kamu ingin kembali ke sana lagi ?"
"Iya, Pak. Tenaga saya sangat dibutuhkan disana. Kami malah kekurangan tenaga."
"Terserah kamu kalau begitu. Itu sudah  menjadi pilihanmu. Bapak hanya bantu doa saja."

"Terima kasih, Pak." Aku mencium tangan keriput Bapak. Akhirnya beliau merestui juga.

Memang benar kok kata orang  tua itu kalau semarah-marahnya orang tua pada anak itu, suatu saat akan luluh juga.
"Tika, umur kamu sekarang sudah 26 tahun. Teman-temanmu di kampung ini hampir semua sudah menikah. Kapan kamu beri bapak cucu?"

Rasanya seperti minum pil pahit saja mendengar pertanyaan Bapak itu. Bingung mau jawab apa. Karena memang selama 5 tahun ini aku tidak menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Lalu lelaki mana yang mesti aku kenalkan.

"Heeemm..."
"Apa mungkin kamu mau balik sama Guntur lagi?"
"Nggak kok, Pak. Dia hanya main saja kok."
"Padahal Bapak sudah ingin menggendong cucu. Teman-teman Bapak sudah punya cucu semua, hanya Bapak saja yang belum."

Diam mungkin jalan terbaik menghadapi situasi ini. Mau bicara takut melukai perasaan Bapak, apalagi beliau baru saja sembuh.

"Bapak itu sebenarnya pikiran sama kerja kamu di sana. Kamu itu perempuan tinggal jauh dari sanak saudara. Masih juga tinggal di pedalaman. Kalau ada apa-apa dengan kamu siapa yang akan menjaga kamu?"

"Saya yang akan menjaga Kartika di sana, Pak."

"Dokter Amir?"
"Lho kalian sudah sailing kenal to ternyata. Tika, ini Amir anaknya teman Bapak yang lima tahun lalu ingin Bapak kenalkan sama kamu."

Aku diam tak percaya mendengar itu. Pantas saja selama ini dia begitu acuh, ternyata sebagai salah satu cara membalas perbuatanku dulu.

"Setelah lulus kuliah, saya memang mencari dimana Kartika bekerja. Saya takutnya kalau saya terus terang, dia malah lari lagi." Mata dokter Amir melirikku.
Jika tidak ada Bapak mungkin aku sudah mencubit dokter yang telah membuat hatiku terombang-ambing selama setahun ini.



***end***

#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images