Pulang (Bab 1)

23.53.00


Pandangan mata Kartika tidak lepas dari layar Android berlayar 5 inchi yang dipegangnya sejak sore. Pesan yang masuk siang tadi belum juga menemukan jawaban yang pas untuk membalasnya. Tetapi pesan adiknya mau tidak mau harus segera dijawab. 
"Mbak Tika, tolong pulang secepatnya. Bapak masuk rumah sakit." Itu tulis adikku.

Bapak sakit. Rasa-rasanya hati ini tidak percaya. Lelaki seteguh dan sekeras bapak bisa sakit, apalagi masuk rumah sakit, ini merupakan hal yang tidak masuk akal. Tapi tidak mungkin adiknya berbohong apalagi mengatakan bapak sakit. Itu merupakan suatu pantangan bagi keluarga kami.

Masih jelas dalam ingatan lima tahun lalu saat aku baru saja diwisuda dan berniat mengabdikan diri di pedalaman Kalimantan. Namun, bapak dengan tegas melarang niat tulusku.
"Aku nyekolahin kamu sampai lulus kuliah bukan untuk bekerja di pedalaman. Lebih baik kamu kerja di kota ini saja, sambil meneruskan usaha bapak." Kata bapak sambil menatapku dengan pandangan menghujam.

Tidak ada yang berani membantah perkataan Bapak. Apa yang dikatakan beliau, itu pula yang harus dilakukan. Tetapi, niat untuk mengabdikan diri di pedalaman Kalimantan sudah bulat. Apalagi surat penugasanku juga sudah keluar. Mau tidak mau, aku harus menjawab perkataan Bapak. Dan, itu berarti perang akan terjadi di rumah ini.
"Maaf, Pak. Di kota ini sudah terlalu banyak bidan. Sementara di pedalaman sana tenaga saya sangat dibutuhkan Karena petugas medisnya sangat kurang." Ku coba berkata selembut mungkin supaya Bapak tidak semakin marah.

Namun, ternyata perkiraanku salah. Bapak tidak terima perkataannya dibantah.
"Braaaak..." Bunyi meja didepanku yang digeprak Bapak.
"Kamu berani melawan Bapak? Kamu mau makan apa di sama. Sawit, rotan atau berburu binatang. Uang gajimu hanya akan cukup buat makan seminggu."

"Tapi....Pak?"

"Bapak tetap tidak setuju kamu kerja di sana. Sebab kamu akan Bapak jodohkan dengan anak Om Darto, sahabat Bapak waktu SMA dulu. Anaknya sekarang masih kuliah S2 di Jakarta."

"Apa...dijodohkan?"

"Yaa...Dan kamu harus menerimanya."

"Tidaak. Saya tetap pergi ke Kalimantan minggu depan. Ini surat penugasan saya." Aku perlihatkan surat penugasan itu pada Bapak.

'Kalau kamu mau pergi tidak perlu menunggu minggu depan. Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini!" Teriak  Bapak sambil meninggalkanku yang menangis.

Ibu dan adikku yang melihatnya hanya bisa diam dan ikut menangis bersama.

Akhirnya, saat itu juga aku membereskan barang-barang keperluanku. Diiringi tangisan Mama dan adik lelakiku, sore itu aku mantap meninggalkan rumah tempat aku berlindung sejak kecil.

Dan semenjak itu pula aku meninggalkan rumah. Hingga sekarang hampir lima tahun berlalu.


#onedayonepost
#odopbatch5



You Might Also Like

2 komentar

  1. waduuuhhh tegang banget ceritanya mba. kira-kira perjalanan selanjtnya doi gmn ya apa merantau ke kalimantan atau menuruti kata ayahnya.hmmm

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images