Pulang (Bab 2)

23.55.00


Sungai Kapuas pagi ini cukup tenang saat aku mulai mendayung sampan. Sinar matahari menerobos celah-celah pohon untuk ikut menyapa air sungai.

Perlahan sampan kecilku menyusuri aliran sungai yang akan mengantarkanku ke tempat aku mengabdikan diri. Yah, tempat inilah yang ditentang bapak lima tahun lalu. Sebuah puskesmas kecil di salah satu wilayah kabupaten Kapuas Hulu.

"Pagi, Bu Dokter. Mau berangkat kerja ya?." Teriakkan seorang warga yang sedang mencuci di sungai membuyarkan lamunanku tentang bapak.

"Iya, Antuha. Nyuci bajunya yang bersih ya! Hati-hati kalau ada yang hanyut."

Dulu, waktu pertama kali datang me tempat ini. Antuha ini paling tidak suka atas kehadirannya. Karena, dia merupakan salah satu dukun yang disegani di daerah ini. Namun, seiring berjalannya waktu, Antuha telah berubah sikap.

Perjalanan menuju puskesmas tidak pernah membuatku bosan, melihat keseharian masyarakat di sepanjang sungai ini sunggah mengasikkan. Bagi masyarakat sini, sungai ini merupakan segalanya.

Suka dan duka selama Lima tahun tanpa terasa terlewati. Hingga kabar tentang sakitnya Bapak, membuat aku menginggat kembali tentang suasana rumah. Yah, bagaimana pun sikap Bapak, beliaulah yang telah membuat aku menjadi seperti saat ini.

Tampa terasa sampanku sudah sampai di tepian. Langkahku mantap, aku hendak minta izin cuti untuk mengunjungi Bapak. Izin cuti itu hanya bisa diberikan oleh Dokter Amir, seorang dokter yang sedang menjalani PTT.

Suasana puskesmas pagi itu cukup ramai karena sedang diadakan imunisasi  untuk mencegah penyakit difteri. Berhubung petugas yang menangani imunisasi bisa menghendel. Maka, aku teruskan langkahku menuju ruangan Dokter.

Setiba didepan pintu, hatiku mulai gamang, akankah dokter ini mau mengijinkan aku untuk cuti. Karena, rasa disiplin Dan etos kerjanya begitu tinggi.
"Took...tokk. Permisi, Dok."
"Iya. Ada apa? Bukankah kamu seharusnya didepan membantu Ria." Belum sempat mengutarakan niat Dokter Amir sudah mencecarku dengan pertanyaan.

"Maaf, Dok. Saya mau minta cuti."
"APA! Cuti. Kamu nggak salah bicara. Do sini sedang banyak kerjaan dan kamu mau minta cuti."

Entah mengapa semenjak kehadiran Dokter Amir di puskesmas itu satu tahun lalu, Kartika merasa tidak nyaman berada di likungan puskesmas. Apa yang dilakukan selalu salah di mata dokter ini. Dia memilih tugas luar mengunjungi warga di pelosok-pelosok daripada harus berhadapan dengan dokter sok ini.

"Tapi...saya belum pernah cuti selama kerja disini. Saya..." Kartika berusaha menahan air matanya supaya tidak menangis di depan dokter ini.

"Bukan masalah kamu pernah cuti atau tidak. Tetapi kita kekurangan tenaga di sini." Suara Dokter Amir mulai melunak melihat raut wajah Kartika yang pias.

"Saya tahu, Dok. Tapi Bapak saya masuk rumah sakit kemarin. Saya disuruh cepat pulang. Saya...takut terjadi apa-apa." Kartika bicara sambil meneteskan air Mata. Bayangan Bapaknya menari-nari di kepalanya.

Dokter Amir memandang Kartika, sebenarnya dia juga iba melihat Kartika seperti itu.
"Baiklah kalau begitu. Kamu cuti satu minggu saja bagaimana?"
"Dua minggu bagaimana. Saya perjalanan pulang pergi saja 4 Hari. Masa dirumah hanya 3 Hari.

"Kamu itu sudah dikasih ijin. Masih juga menawar. Ya sudah, terserah kamu. Yang penting segera kembali me sini begitu urusan selesai."

"Baik, Dok. Terima kasih untuk ijinnya."

Kartika melangkah keluar ruangan dengan bahagia. Akhirnya dia bisa mudik juga.



#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images