Pulang (Bab 3)

23.56.00


Tak banyak barang yang ku bawa. Hanya  tas ransel berisi beberapa potong baju dan peralatan pribadi lainnya. Ingin sebenarnya aku membawa oleh-oleh ikan asin, tapi aku tidak ingin membuat orang di pesawat mengeluh karena baunya yang menyengat.


Sebelum melangkah keluar rumah, kupandangi lagi kamarku. Engan sekali kaki ini melangkah. Kamar itulah tempat mencurahkan segala susah senangnya hidupku di sini.

Cepat-cepat aku melangkahkan kaki setelah mengunci pintu. Sampanku masih ditempat yang sama. Yah, aku harus segera ke kota kecamatan untuk naik speadboat supaya tidak ketinggalan pesawat di kabupaten. 

"Mau kemana, Tik?"Suara seseorang mengagetkanku sesaat sebelum ku lepas tali sampan ini. 
Ternyata suara Pras, anak seorang juragan kelapa sawit di sini. Dia seorang sarjana kehutanan di sebuah universitas di Jawa dan memilih kembali ke kampung halaman demi memajukan kampungnya.

"Mau ke kabupaten."
"Kok bawa rangsel segala. Berapa hari di Sana?"
"Aku mau ke Jawa. Bapakku sakit."
"Kalau begitu Aku antar saja pakai kapalku ini."

"Tidak perlu. Aku naik kapal di kecamatan saja."
"Sudahlah, ayo naik. Kita tidak punya banyak waktu. Pesawat ke Pontianak 2 jam lagi berangkat. Kamu tidak cukup waktu kalau naik di kecamatan."
Pras berkata sambil mengambil alih tas rangsel Kartika. Dan meminta Kartika untuk segera naik ke speadboatnya

Mesin telah menyala dan siap menyusuri sungai Kapuas. Saat nampak seseorang berlarian sambil berteriak-teriak.
"Bu Tika, tunggu."
Teriakan yang berulang itu semakin jelas saat lelaki itu semakin mendekat.
"Bu, tolong isteri saya."
"Kenapa isterimu, Pak Parjo?"
"Isteri saya mau melahirkan, Bu. Dia sudah tidak kuat lagi kalau berjalan ke Puskesmas."
"Baik, Aku pulang dulu ambil peralatan."
Kartika dengan cepat meloncat dari speadboat dan berlari menuju rumahnya. Meski ia hanya berstatus perawat tapi keberadaannya di tempat itu harus menguasai semuanya, termasuk membantu persalinan.

Dengan menenteng peralatan medias Kartika, Parjo dan Pras berlarian di atas 'gertak' menuju rumah Parjo.
"Cepat siapkan air panas!"
"Baik, Bu."
Nampak isteri Parjo merintih menahan rasa sakit di atas kasur. Dengan sigap Kartika segera membantu persalinan isteri Parjo.
"Pak Parjo, sini bantu isterimu."
"Baik, Bu."

Tak menunggu waktu lama terdengarlah tangisan bayi di rumah itu. Semua orang yang berada di situ mengucap syukur.

Setelah memandikan bayi selesai, Kartika melihat jarum jam.
"Yah, setengah jam lagi pesawat berangkat. Tidal cukup waktu mengejarnya."

"Kenapa, Bu?"

"Tidak ada apa-apa. Jaga anak dan isterimu ya!"
Parjo mengangguk sambil terus mengamati anaknya yang baru lahir.

Kartika melangkah ke luar rumah menemui Pras yang sedang merokok.
"Pras, kita tidak jadi pergi."
"Kenapa?"
"Pesawat hampir berangkat. Kita tidak cukup waktu untuk mengejarnya."
"Oh...."
Pras mengerti kekecewaan hati Kartika. Mereka berjalan bersisian di atas 'gertak' menuju rumah dinas Kartika.



Nb : kurang deskripsi, ebi amburadul, cerita ini mau dibawa ke mana belum tahu. Just writing.


#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5



You Might Also Like

4 komentar

  1. tetep saya baca kok mba elin.
    semangat nulis lagi mba..

    BalasHapus
  2. Semangat terus untuk menulis novelnya mba Elin. Kalau boleh saya memberi saran sih ya mba, untuk setiap judulnya ditambahin kata seperti Novel, Cerpen, atau yang lainnya agar pembaca bisa langsung tahu bahwa ini novel, gitu mba Elin. Contohnya: Novel - Pulang (Bab3), mudah-mudahan bisa membantu agar artikel bisa terindex dengan baik di Google. Salam Olahraga!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas sarannya kang Dody. Ditunggu saran-saran berikutnya. Salam olahraga kembali...:)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images