Pulang(Bab 6)

23.45.00


Gerimis tipis mengiringi ojek yang aku naiki memasuki gerbang Rumah Sakit Dr. Soedhono. Sebuah rumah sakit terbesar dan terlengkap fasilitas di kota  ini.

Setelah membayar ongkos ojek, segera kulangkahkan kaki menuju ruang ugd di mana terlihat beberapa petugas jaga untuk menanyakan ruangan tempat bapak dirawat.

"Malam, Mas! Maaf mau tanya, ruangan untuk penderita stroke di mana?"

"Di Block A, belakang UGD ini. Tapi jam besuknya besok pagi, Mbak."

"Saya tahu. Bapak saya dirawat disini sudah 3 hari. Dan, saya baru datang dari Kalimantan langsung ke sini."

Bersamaan dengan itu ada telepon masuk dari adikku yang menyuruhku menunggu di luar Ugd saja. Sebab dia sedang berjalan untuk menjemputku. Setelah berbasa-basi mengucapkan terima kasih pada petugas jaga, aku segera keluar menuju tempat yang disebutkan adikku. 

Kurang dari 10 menit pelukkan seseorang mengagetkanku.
"Kak, gimana kabarnya?"

Aku masih termangu dengan pelukan lelaki yang ternyata adikku ini. Lima tahun ternyata ternyata waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan pada tubuh adik semata wayangku ini.
Dulu dia masih duduk di bangku sma kelas 2, masih lugu dan sering malu-malu. Tapi, lihat sekarang, dia sudah menjelma menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab.

Sambil bercerita kami melangkah melewati pintu sempit di samping Ugd untuk selanjutnya menyusuri lorong-lorong sepi di rumah sakit menuju ruangan Bapak.

Aku berusaha menyiapkan hati saat memasuki ruangan tempat Bapak dirawat. Bagaimanapun keadaannya aku harus kuat. Nampak ibu duduk tertidur di kursi di samping ranjang. Lama aku tertegun memandangi lelaki di ranjang itu, beliau tergolek lemah dengan berbagai peralatan medis berada di sekujur tubuh itu. Padahal, lima tahun lalu, terakhir aku melihat dan melukai hatinya tubuhnya masih segar bugar.

"Bapak, maafkan Tika!" Tetes air mata tak bisa aku bendung sambil kucium tangannya yang keriput. Hati ini begitu perih melihat kenyataan ini. Jika saja aku bisa menukar waktu untuk kesehatan Bapak.

" Nduk, kamu pulang." Suara Bapak perlahan menyapa sambil membalas mengelus kepalaku.

"Bapak sudah sembuh kok. Kamu tidak perlu sedih."

Aku semakin tergugu mendengar itu. Ternyata ketakutanku selama ini untuk pulang adalah salah. Mereka tetap orang terbaik yang aku milikki...



#tantangancerbung
#tantanganodop
#onedayonepost
#odopbatch5

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images