Puisi Ibu Konde Cermin Ketidakbijakan Seorang Ibu

00.27.00


Setiap anak mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Walau anak itu lahir dari rahim yang sama dan benih yang sama. Bahkan, dua anak yang kembar identik pun pasti juga mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan keduanya.


Sejak dahulu bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama. Kerajaan Majapahit pada masa kepemimpinan Raja Hayam Muruk bersama Mahapatih Gajah mencapai puncak kejayaan dengan menguasai wilayah dari pulau Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera bahkan hingga Malaka. Dengan wilayah kekuasaan sedemikian luas, tentu saja rakyatnya multi etnis. Tetapi, rakyat pada waktu itu begitu menghormati raja dan keluarga kerajaan, yang pada waktu itu raja dan keluarganya memang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat.

Wilayah Nusantara saat ini memang telah menyusut dengan bergabungnya wilayah Malaka ke Negara Malaysia. Namun, wilayah nusantara tetap terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama.

Beberapa hari lalu, saya tertegun saat membaca postingan teman tentang puisi yang dibacakan seseorang ibu, putri dari salah seorang pemimpin negeri tercinta ini. Berikut penggalan puisi yang membuat orang berkomentar negatif.
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu

Dan satu lagi penggalan yang juga menuai kontroversi  dari  public.
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu kidung Ibu Indonesia sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Meskipun sebuah puisi ditulis atas buah pikiran dari masing-masing individu. Namun, menurut saya hal itu tidak patut dilakukan apalagi mengatas namakan sebagai Ibu Indonesia.

Dalam hal ini saya menilai dari posisi saya sebagai seorang ibu bagi anak-anak saya. Seorang ibu yang bijak tidak akan melebih-lebihkan atau pun menjelek-jelekan salah satu anaknya dihadapan anak yang lain. Ibu yang bijak akan berusaha menutupi kekurangan dan kelebihan anak-anaknya, supaya suasana rumah tetap nyaman untuk semua anggota keluarga. Karena, walau bagaimana pun anak-anak merupakan aset yang tak ternilai bagi orang tua.

Kembali ke pembacaan puisi Ibu Indonesia diatas tidak seharusnya dibacakan karena penduduk Indonesia sejak dahulu sudah terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya dan agama. Dengan pembacaan puisi "Ibu Indonesia' tersebut seolah-olah men-diskrimisasi salah satu agama, yang merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia.

Di tengah begitu rawannya soal SARA, pembacaan puisi tersebut seolah-olah menjadi pemantik api, munculnya berbagai aksi menanggapi pembacaan pembacaan puisi tersebut.

Hal ini tentunya membuat tidak nyaman suasana keberagaman di Indonesia. Mungkin jika dibiarkan aksi ini akan meluas ketindakkan anarkis.

Walau bagaimana pun keadaan suatu golongan masyarakat tidak seharusnya seorang ibu indonesia melebih-lebihkan dan menganak tirikan satu golongan masyarakat dengan golongan masyarakat lain. Karena, hal tersebut akan memicu ketidaknyaman kehidupan bermasyarakat.



#kelasnonfiksi
#odopbatch5
#onedayonepost

You Might Also Like

10 komentar

  1. Siapapun, termasuk ibu atau perempuan manapun, seharusnya bijak bersikap ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bukan hanya perempuan Mbak tapi juga laki-laki perlu bijak.

      Hapus
  2. Kita semua siapapun itu mesti bijak dalam menyikapi keberagaman

    BalasHapus
  3. Siip, setuju pengaitannya dengan sikap seorang ibu terhadap anak"nya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images