Hidup Bukan Hanya Berdasarkan Angka-Angka di Sekolah

15.30.00


Selamat datang bulan Juli. Selamat menikmati libur sekolah bagi yang masih sekolah. Dan persiapan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya bagi yang meneruskan sekolah yang lebih tinggi.

Lalu bagi orang tua bagaimana?

Bagi orang tua yang memiliki anak masih bersekolah di sekolah yang sama, selamat bersenang-senang karena anak-anak di rumah. Tentunya rumah menjadi semakin ramai karena teriakan para ibu  melihat anaknya bertengkar dengan saudaranya. Atau mungkin para ibu semakin cerewet karena melihat anaknya hanya bermain handphone saja. Pasti para ibu mengakuinya hehe.

Sementara bagi orang tua yang mempunyai anak yang hendak memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, pastinya sedang disibukkan dengan persiapan anak memasuki sekolah baru. Baik persiapan materi maupun rohani. Setelah beberapa hari lalu sempat deg-degan menunggu pengumunan penerimaan siswa baru di sekolah pilihan anak. Rasa penasarannya lebih besar  dari pada menunggu perhitungan realcount pilkada. Ini benar lho, karena saya mengalaminya. Kalau pilkada bagi saya, siapapun yang menjadi pemimpin ya harus kita dukung supaya daerah kita bisa lebih baik. Sementara kalau penerimaan siswa baru berhubungan langsung dengan masa depan anak.

Kembali ke topik persiapan memasuki sekolah baru bagi anak saya. Meski dari awal sudah yakin diterima di sebuah sekolah favorite di daerah saya. Tapi sebagai orang tua tetap kawatir juga karena nilai nemnya standard. Semenjak awal sudah saya nasehati jika tidak diterima di sekolah yang dia kehendaki harus terima bersekolah di pilihan ke dua.

Untuk nilai-nilai sekolah semenjak dulu saya memang tidak menuntut harus menjadi yang terbaik. Karena semakin tinggi jenjang pendidikan semakin banyak juga pesaingnya. Bagi saya kehidupan ini bukan hanya terpaku  pada nilai-nilai sekolah saja. Namun, banyak faktor yang diperlukan dalam kehidupan ini supaya bisa maraih kesuksesan.

Apalagi anak saya dua-duanya laki-lali, sehingga lebih sulit untuk mengharapkan selalu nilai terbaik di sekolahnya. Sehingga saya tidak pernah menargetkan angka terhadap anak-anak. Yang selalu saya lakukan adalah terus memotivasi mereka untuk belajar.

Apakah saya tidak suka jika anak saya mendapatkan nilai terbaik?

Orang tua mana pun pasti akan bangga, jika nilai  sekolah anaknya baik, apalagi terbaik. Namun, jika itu sesuai dengan kemampuan anak. Jika tidak sesuai tentunya akan membebani mental si anak sendiri, yang efeknya tentu saja sangat tidak baik bagi tumbuh kembang anak.

Bagi saya pribadi, kehidupan ini luas, jadi tidak hanya tergantung pada nilai sekolah saja. Kesuksesan seseorang itu dipengaruhi oleh banyak faktor pendukung lainnya. Pintar di sekolah belum tentu menjamin kehidupan yang sukses bagi anak kelak. Apalagi tanggung jawab anak lelaki itu berat karena kelak mananggung hidup keluarganya. Karena itulah saya senantiasa mengingatkan pada anak untuk terus belajar di segala bidang. Tidak hanya di sekolah tetapi juga belajar memahami kehidupan ini dari kegiatan tiap hari.

Saat orang tua repot dan dia dimintai membantu, saya senantiasa mengatakan pada dia bahwa ini juga untuk melatih kamu baik dari ketrampilan maupun secara fisik. Misalnya saat dimintai tolong pergi ke sawah untuk menuang bensin atau solar ke mesin diesel, saat  mengeluh karena disuruh, maka saya mengatakan pada dia bahwa ini juga mengajari kamu tentang bagaimana susahnya menghasilkan padi yang kamu makan tiap hari. Atau saat dia diminta tolong mengantar jamur ke pengepul, itu untuk mengajari kamu tentang matematika tanpa melihat kalkulator. Semakin terbiasa kamu melakukannya semakin hafal berapa uang yang akan kamu terima meskipun jumlah jamur yang dibawa tidak sama.

Begitu pun saat dimintai tolong kakak saya untuk membantu di bengkel, saya senantiasa mengingatkan itu juga untuk menambah keahlianmu. Lihat saja teman-temanmu yang tidak punya kesempatan berlatih harus membayar mahal biaya sekolah untuk belajar otomotif.  Sementara kamu punya kesempatan luas untuk belajar, maka manfaatkanlah. Entah kapan ini akan berguna buat kamu. Alhamdulillah, di usia yang masih puber dia sudah paham seluk beluk mesin, hingga untuk bongkar pasang (turun mesin) dia sudah bisa mengatasinya.

Kembali ke  soal angka di sekolah itu memang penting. Karena jika terlalu kecil anak akan malu dan juga minder. Yang terbaik adalah terus memotivasi anak untuk berusaha lebih baik tanpa menargetkan pada mereka. Menurut pengalaman saya sendiri sebagai orang tua, teman-teman masa sekolah dulu yang terlihat biasa saja malah bisa sukses karena dia mau bekerja keras. Bukan, berarti yang pintar tidak bisa sukses. Mereka juga sukses, namun dalam bidang tertentu yang istilahnya sekarang dalam zona nyaman.

Maka sebagai orang tua kita hendaknya mampu membekali anak-anak kita berbagai ilmu baik di sekolah formal maupun ilmu kehidupan. Karena dua hal itu saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.


You Might Also Like

2 komentar

  1. pastinya orangtua ingin anaknya berprestasi donk ya. menurut saya anak yang cerdas tidak selalu dilihat dari peringkatnya. tapi setidaknya ibu ayah harus selalu mendampingi perihal hasil pendidikan anak supaya bisa memahami pelajaran yang diterima disekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...namanya juga anak-anak tetap harus selalu diingatkan akan pentingnya sekolah....:)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images