[Resensi Novel] Sirkus Pohon karya Andrea Hirata

23.57.00


Judul : Sirkus Pohon
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Halaman : xiv + 410 halaman
Cetakan kedua, September 2017

Nama Andrea Hirata tentu tidak asing bagi penggemar dunia literasi. Salah satu karya yang sangat terkenal adalah novel Laskar Pelangi. Bahkan novel tersebut telah diangkat dalam bentuk film dan sangat laris.

Novel Pohon Sirkus ini merupakan salah satu karya Andrea Hirata, saya kurang tahu persis ini novel beberapa. Jujur saya sebelumnya tidak begitu tertarik karena judulnya bagi saya aneh. Tetapi mungkin keanehan itu yang membuat saya penasaran dan akhirnya memutuskan membeli novel ini.

Seperti novel-Novel karya Andrea Hirata yang lain, setting novel Sirkus Pohon juga berada di pulau Belitung. Pulau asal sang penulis.

Baca juga Resensi Novel Sauh karya Shabrina WS

Pada bab-bab awal saya sempat bingung mencari tokoh utamanya. Karena pada awal cerita berkisah tentang dua anak kecil yang bertemu di Pengadilan Agama, karena sama-sama mengantar ibunya masing-masing yang sedang mengurus perceraian

Pada bab selanjutnya cerita beralih ke tokoh bernama  Sobri. Dan ini ternyata adalah tokoh utama dalam novel Sirkus Pohon.

Cerita dalam novel ini menggambarkan kehidupan rakyat golongan menengah ke sawah di daerah Tanjung Lantai, Belitong. Di ceritakan Sobri atau Hob seorang anak putus sekolah, saat kelas 2 SMP karena pengaruh temannya. Dia kesulitan dalam mencari pekerjaan sebab tidak punya ijazah SMA. Pekerjaannya hanya sebagai kuli angkut di pasar atau pekerjaan kasar lainnya.

Saat Hob jatuh cinta dengan Dinda yang bekerja sebagai penjaga toko dan berniat untuk menikahinya. Dinda mau menikah asal Hob punya pekerjaan tetap. Pada akhirnya Hob diterima menjadi pemain sirkus sebagai badut.

Dalam novel ini juga diceritakan tentang Tara dan Tegar, dua anak yang bertemu di Pengadilan Agama tersebut ternyata sama-sama menyimpan kenangan pertemuan pertama mereka tersebut. Ninggal saat mereka beranjak remaja, mereka masih terbayang dengan pertemuan itu. Sehingga mereka saling mencari dengan bermodalkan pertemuan di masa kecil.

Ada juga cerita tentang Pohon delima, yang berada di depan rumah Hob. Pohon tersebut dianggap sakit oleh orang sampung, bahkan beberapa pihak ingin memiliki pohon tersebut dan menawarnya dengan harga tinggi.

Menurut saya novel ini sangat bagus, banyak tokoh yang ditampilkan selain tokoh-tokoh utama di atas. Cerita tentang warung kopi, permainan dadi, intrik dalam pemilihan kepala desa serta cerita lain kas cerita masyarakat menengah ke sawah. Ditambah dengan kritik-kritik social dan cerita lucunya membuat yang membaca iku tersenyum-senyum sendiri.

Kekurangan novel ini menurut saya adalah di bagian akhir novel di mana cerita seolah-olah diulur supaya bertambah halaman. Selain itu rentang waktu yang kadang kurang pas。

Secara keseluruhan novel ini bagus banget dan layak untuk dijadikan referensi bacaan.

Happy reading dan siap-siap senyum sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images