Berpindah dari Zona Nyaman untuk Hidup lebih Baik

16.58.00


Mungkin saat ini kalian berada di zona nyaman. Dengan pekerjaan tetap, gaji setiap bulan, meskipun terkadang harus mengurungkan beberapa keinginan, karena terbatasnya keuangan. Namun, masihkah kamu akan terus bertahan dengan semakin bertambahnya kebutuhan. Untuk berkembang memang dibutuhkan keberanian untuk berpindah dari zona nyaman saat ini. Tentunya berpindah dari zona nyaman untuk hidup yang lebih baik.

Tadi pagi kebetulan baru saya ngobrol dengan teman masa putih abu-abu. Meski sudah lama tidak bertemu tetapi teman-teman di masa ini masih sering ngobrol di grup whatsAapp. Mungkin masa ini yang paling menarik dan banyak cerita ya. Jadi, teman-teman tetap menyempatkan waktu bertemu jika ada kesempatan.


Obrolan pagi kebetulan tidak melalui grup, tetapi langsung saya japri seorang teman. Ceritanya ada seorang teman kami yang berniat resign dari tempatnya bekerja saat ini di sebuah lembaga perbankan untuk berwirausaha. Dan, saya sangat setuju dengan rencana teman tersebut.

Apa gak salah dengar? Bukankah saat ini dia sedang berada di zona nyaman. Dengan pakaian dinas, pergi pagi, pulang sore dan tiap bulan terima gaji. Kehidupannya terjamin. 

Kamu bukannya mengurungkan niatnya, malah menyetujui rencananya untuk  resign. Padahal berwirausaha belum tentu hasilnya, kalau usahanya tidak berhasil, kamu yang akan disalahkan?  Mungkin itu pemikiran beberapa orang.

Jangan pernah lupa kalau Allah sudah menjamin rejeki setiap mahkluk ciptaan-Nya. Tinggal kita bagaimana berusaha untuk mendapatkan rejeki itu. Asal ada usaha pasti ada hasil.

Teman saya saat ini dalam kondisi sakit. Dalam satu bulan sudah keluar masuk rumah sakit. Bisa dibayangkan dalam kondisi sakit dia harus tetap bekerja. Karena itu memang sudah kewajibannya.

Dengan semakin bertambahnya angka umur membuat saya memandang segala sesuatu itu bukan berdasar pada lahiriah saja. Tapi, juga mulai berpikir apakah sesuatu yang saya lakukan itu berkah atau tidak.

Kebetulan teman saya bekerja pada bagian akomodasi, kasarnya sopir. Tetapi, dia sering bertugas untuk mengantar atasan bagian kredit ke berbagai daerah. Memang dia tidak terlibat langsung, tetapi dia juga turut andil dalam menyebarkan riba(menurut saya yang pernah mendengar tausiyah dari ustadz).

Kembali ke persoalan rejeki. Saat ini bagi saya pribadi, rejeki itu tidak hanya mengejar seberapa banyak. Tetapi juga keberkahan dari rejeki itu. Apa pun kalau tidak berkah pasti akan ada saja halangannya. Mudah mendapatkan dan mudah untuk hilangnya.

Apakah bekerja di perbankan tidak berkah? Kalau ini masalah pribadi masing-masing orang. Saya menghargai mereka yang bekerja ditempat ini. Karena saya pun menggunakan jasa perbankan. Tetapi kebanyakan mereka yang berkecimpung di bidang ini. Masa tuanya sering sakit-sakitan. Mungkin karena kerja terforsir, menjadikan tubuh rentang terhadap berbagai penyakit.

Keputusan untuk berpindah dari Zona nyaman untuk hidup lebih baik itu memang berat. Selain dibutuhkan keberanian, juga diperlukan persiapan yang cukup matang sebelum benar-benar melangkah. Tetapi dengan adanya niat dan usaha yang keras, disertai dengan doa. Tidak ada yang tidak mungkin. Kalau kita bisa hidup lebih baik di zona selanjutnya.


You Might Also Like

17 komentar

  1. Aku setuju dengan kalimat : untuk berkembang harus mempunyai keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kualami sendiri saat harus mutasi ke kantor baru dengan pekerjaan lebih menantang. Merasa diriku lebih berkembang dan semakin banyak ilmu ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap tempat pasti memberikan pelajaran sendiri. Jadi tinggal kita menyesuaikannya.

      Hapus
  2. Saya sedang masa ini, dari zona nyaman ke zona yang mengajarkan untuk hanya bersandar pada-Nya. Namun tentu saja, ujiannya tidak mudah. Harus banyak beristigfar dan tetap terus berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga mampu melewati cobaan dan tantangan dengan penuh semangat dan tawakal mbak Wiwid...:)

      Hapus
  3. Tentunya sebelum berpindah haluan sudah ada langkah yang akan di lakukan utk rencana baru. Mungkin kadang harus bertahan dulu sebelum ada titik terangnya utk perpindahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang untuk itu diperlukan persiapan yang matang....😊😊

      Hapus
  4. Betul sekali, dibutuhkan keberanian yang kuat. Dan niat dan keyakinan yang kuat. Jangan takut kelaparan.
    Awal pula saya putus dari kerjaan, ada juga rasa was-was seperti itu. Takut gimana akan nasib masa depan, pokoknya ketakutan yang luar biasa deh,
    Dan kini ternyata, apa yang saya takuti tidak tejadi. Ketakutan itu hanyalah sebuah bayang-bayang belaka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang untuk melangkah itu, seseorang sudah ragu. Jadi timbul ketakutan yang belum tentu terjadi. Padahal kalau kita tidak berpindah zona. Keadaan kita juga tidak akan berubah.

      Hapus
  5. Kemana nih yang punya blog

    BalasHapus
  6. Keluar dari zona nyaman itu emang butuh keberanian besar, kalau nggak yakin bisa-bisa malah nggak kuat. Tapi kalau mau ada perubahan kita sebagai manusia memang harus berani melangkah keluar dari tempat aman ke tempat yang belum jelas. Dan jangan lupa berdoa pada Allah😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat baru menyajikan tantangan baru. Dan pastinya harapan baru juga. Selagi mampu kenapa tidak mencoba:-)

      Hapus
  7. Kadang keluar dari zona nyaman memang dibutuhkan mbak, saya juga ingin melwkukannya. Saya ingin melepas status saya sebagai pns, tapi berat karena saya belum punya penghasilan sampingan,,, tapi saya akan coba hingga 2020, semoga aja bisa berhenti dan kerja di bidang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keputusan yang berat memang, melepaskan pekerjaan yang diidamkan oleh banyak orang.
      Tapi saya yakin ada alasan kuat yang mendorong Mas Sabda mengambil keputusan tersebut.
      Semoga diberi kelancaran dan kemudahan apapun keputusannya. Aamiin.

      Hapus
  8. Yang berkecimpung di dunia perbankan, waktu tua penyakitnya aneh-aneh? Itu sih karena kebanyakan lembur. Yang kerja di auditor publik dan law firm lebih parah lagi lho...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mungkin begitu Mbak Dyah. Mikirin pekerjaan, lupa mikirin kesehatan pribadi.

      Hapus
  9. Astaghfirullah.
    Benarkah yang bekerja dibank masa tuanya sakit aneh aneh ? ":')

    Sedih bacanya mba.

    Semoga semua pekerjaan termasuk pekerja bank ini selalu diberikan kesehatan. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena setiap hari kerja terlalu terforsir. Jadi, akibatnya kesehatan di masa tua terganggu.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images