Menggunakan Waktu yang Singkat untuk Menebar Kebaikan

23.33.00


Euforia kemeriahan tahun baru 2019 seolah baru saya kita rayakan kemarin. Bagaimana kita menyaksikan ribuan kembang api menyala di udara saat pergantian tahun. Tanpa kita sadari saat ini kita sudah berada di bulan maret. Dua bulan sudah kita lalui tahun 2019.

Perasaan baru tadi bangun tidur dan beraktifitas harian. Sekarang sudah malam dan kita sudah harus beranjak ke tempat tidur lagi supaya besok aktifitas lancar. Yap, begitulah aktifitas kita sehari-hari.



Jarum jam terus berdetak. Pagi bekerja hingga sore, mungkin lembur hingga malam. Hingga waktu menunjukkan saat untuk segera ke peraduan. Supaya besok rutinitas bisa berjalan lancar. Dan, ini berulang dari hari ke hari, bulan ke bulan. Bahkan hingga berganti tahun.

Waktu 24 jam sehari semalam terkadang seolah kurang saat kita dikejar suatu pekerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu. Bahkan, terkadang kita berharap supaya waktu bisa berjalan perlahan. Bila mungkin berhenti sejenak, supaya kita bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan tepat waktu. Namun, pada kenyataannya waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Di antara putaran waktu tersebut Pernahkah selama ini kita berpikir? Sudah bermanfaatkah hidup kita untuk orang di sekitar kita dan orang lain. Ataukah selama ini kita menggunakan waktu, hanya untuk mengejar kesenangan pribadi saja, tanpa sempat memikirkan kehidupan orang lain. Padahal waktu demikian cepat berjalan. Lalu tujuan apa yang sebenarnya ingin kita raih.

Di era digital seperti saat ini memang interaksi secara langsung dengan pribadi lain sangat berkurang. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa saling berinteraksi meskipun hanya lewat media elektronik. Lalu, saat sudah berinteraksi dengan orang lain lewat media eletronik, apa yang kita lakukan. Hanya sekedar say hello, bercanda tanpa ada tujuan. Atau menggunakan media ini untuk saling bertukar pendapat dan menambah pengetahuan.

Detik demi detik terus berlalu. Tanpa kita tahu sampai di mana kita bisa melampauinya. Teramat sayang waktu yang  kita miliki hanya untuk dihabiskan untuk sesuatu yang tidak ada untungnya bagi kehidupan selanjutnya.

Tujuan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang hidup hanya untuk mengejar materi. Ada yang hanya mengejar karier. Itu semua tergantung diri pribadi masing-masing. Meskipun tujuan kehidupan setiap orang berbeda. Tetapi, tetap perlu diingat bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Akan ada kehidupan kekal abadi setelah kehidupan di dunia ini.


Lalu sudahkah kita menyiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya ataukah kita terlalu asyik dengan kehidupan dunia. Sehingga belum berfikir ke arah sana.

Berpikir atau tidak. Waktu itu akan datang pada kita. Dan, kita tidak pernah tahu entah kapan.

Dengan semakin bertambahnya angka umur, seharusnya kita bisa lebih bisa memilih mana yang baik dan yang buruk bagi kita dan orang lain.

Waktu yang demikian singkat ini bisa kita gunakan untuk menyiapkan bekal kehidupan selanjutnya, yaitu dengan menebar kebaikan. Bukankah saat kita menebar kebaikkan dan orang lain melakukannya, maka hal tersebut bisa menjadi catatan amal kita.

Menebar kebaikan itu tidak harus berhadapan langsung, tetapi bisa lewat berbagai media. Banyak hal yang bisa kita tebarkan pada orang lain. Bukan hanya uang dan tenaga saja. Tetapi ilmu pengetahuan dan agama yang bermanfaat.

Bagaimana kita menebar kebaikkan lewat media?
Saat ini hampir setiap orang menggunakan gadget yang terhubung ke internet. Kabar tentang sesuatu hal bisa langsung diketahui dalam hitungan detik di radius ratusan kilometer. Berbagai berita mewarnai media digital ini. Mulai dari berita nyata maupun berita yang hanya rekaan saja(hoax).

Sebagai pengguna media digital, kita tentunya bisa memilih mana yang baik dan yang tidak baik. Berita yang baik bisa kita teruskan pada orang lain. Sementara berita hoax tidak perlu kita teruskan. Cukup berhenti di kita saja.

Jika hal ini dilakukan banyak orang, pastinya kehidupan bermedia sosial bisa bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat. Karena, pikiran masyarakat luas tidak terkontaminasi dengan berita yang tidak baik.

Selain itu, dengan media sosial kita bisa memanfaatkan waktu kita yang singkat untuk menebar kebaikan. Kalau tidak ingin melakukannya. Paling tidak kita tidak perlu menyebarkan berita hoax.




You Might Also Like

8 komentar

  1. Hidup ini singkat.. gunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan.. dengan nyetop penyebaran HOAX aja kita udah berbuat kebaikan bagi sesama.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoax cukup sampai kita saja. Tidak perlu diteruskan lagi...:-)

      Hapus
  2. Sayangnya di era digital saat ini masih banyak sekali orang yang sulit membedakan antara kebenaran dan hoax, hingga pada akhirnya ketika kita ingin melakukan kebaikan tanpa persiapan, malah berujung kita ikut dalam menebarkan kebohongan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sulit membedakan yang hoax atau tidak. Kalau saya sih, berita yang belum tentu sumbernya ya biarkan saja. Tidak perlu di share

      Hapus
  3. Yaaa seperti itulah mbak, tergantung individunya sendiri dalam memaknai hidup mereka apalagi untuk di era sekarang ini, benar-benar butuh pemahaman yang komplek bukan hanya sekedar ikut-ikutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang, tapi sebagai blogger ya sebisa mungkin mengajak kepada kebaikan. Toh itu akan kembali pada orangnya sendiri:-)

      Hapus
  4. Sependapat.
    Dan aku juga setuju kalau kita banyak berbuat menebar kebaikan.
    Kalau dirasa tidak mampu memberi materi ke orang lain, memberikan perhatian dan nasehat yang tidak menggurui .. itu juga sama, sudah berbuat kebaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, banyak cara kita untuk bisa menebar kebaikkan.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images