[Resensi Novel] Ranah 3 Warna karya A. Fuadi

17.31.00



Judul : Ranah 3 Warna
Pengarang: A. Fuadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Halaman: 349 halaman

Ranah 3 Warna merupakan salah satu Trilogi karya A. Fuadi. Novel ini berada di posisi kedua setelah Negeri 5 Menara. Berhubung yang  pertama belum membaca, jadi yang diresensi novel ini dahulu. Kebetulan baru saja selesai membacanya.

Tokoh utama dalam Trilogi ini ini adalah Alif Fikri, seorang putra kelahiran Minang, Sumatera Barat. Tepatnya dipinggiran Danau Maninjau. Dia anak sulung dari dua adiknya yang kesemuanya perempuan.


Kisah novel ini dimulai saat Alif  kembali ke kampung halamannya, setelah selesai menuntut ilmu di Pondok Madani(PM), Gontor. Sebuah pondok pesantren yang berada di daerah Ponorogo, Jawa-Timur.

Alif Fikri mempunyai keinginan kuat untuk kuliah di universitas negeri. Padahal ia lulusan pondok yang tidak mengantongi ijazah, sebagai salah satu syarat utama  untuk mengikuti tes UMPTN(Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Keinginan Alif tersebut tentu saja mendapat ejekan dari teman-teman sepermainannya dahulu. Karena dianggap sesuatu yang mustahil untuk dicapai.

Namun, keinginan Alif begitu kuat untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Dengan semangat man jadda wajada( siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).  Dia bertekad mengikuti ujian persamaan Sekolah Menengah Atas(SMA), supaya bisa mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri(UMPTN). Untuk itu dia harus belajar mati-matian dalam dua bulan supaya bisa lulus ujian persamaan. Dan, akhirnya Alif lulus ujian persamaan meskipun dengan angka pas-pasan.

Melihat nilai yang pas-pasan dan lemahnya dalam hitungan. Akhirnya Alif memilih jurusan Hubungan Internasional(HI). Sebelum ujian persamaan, dia berkeinginan untuk kuliah jurusan teknik penerbangan di Institut Teknologi Bandung(ITB). Demi bisa lulus seleksi UMPTN dia belajar lebih keras lagi. Lebih keras dari belajar saat akan mengikuti ujian persamaan SMA lalu. Dan, Alhamdulillah usaha ALif membuahkan hasil yaitu di terima di jurusan Hubungan Internasionall Universitas Padjadjaran(Unpad) di Bandung, Jawa Baratt.

Dengan diterimanya Alif di Unpad, bukan berarti hidupnya sukses. Tetapi, selama masa kuliah banyak sekali ujian yang dihadapinya. Mulai dari Ayahnya yang sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ekonomi keluarga Alif terganggu. Dan, dia tidak mendapat jatah bulanan dari emaknya di kampung samapai beberapa bulan.

Demi menyambung hidup dan  membiayai kuliahnya, Alif bekerja paruh waktu dengan mengajarkan les, menjual kain, dan katalog berisi produk  kosmetik. Hingga akhirnya Alif jatus sakit tifus selama 1 bulan.

Saat hendak memutuskan putus kuliah dan pulang kampung karena ingin menjaga emak dan dua adiknya. Emaknya melarang keras rencana tersebut. Dan, terpaksa Alif mengurungkan niatnya dan kembali kuliah. Dia selalu ingat nasehat Kyai Rais sewaktu di PM yaitu man shabara  zhafira artinya siapa yang sabar akan beruntung. Dan, satu persatu masalah Alif mulai menunjukkan jalan keluar

Untuk membiayai hidupnya Alif menulis artikel yang dikirimkan ke bebagai koran, baik lokal dan nasional. Keberuntungan mulai berpihak setelah dia terpilih menjadi salah satu pertukaran mahasisiwa  dengan negara Kanada.

Kebetulan dalam kelompok pertukaran mahasisiwa tersebut ikut juga seorang mahasiswi bernama Raisa. Sejak pertama bertemu Raisa, Alif sudah mempunyai perasaan berbeda pada mahasisiwi tersebut.

Selama di Kanada Alif tinggal di daerah Quebec, yang mayoritas penduduknya berbahasa Perancis. Di sana dia mempunyai orang tua asuh bernama Franc dam Mado. Selama di Kanada Alif bekerja di sebuah stasiun TV Lokal. dan, berkesempatan untuk mewancarai salah satu kandidat Referendum yaitu Daniel Janvier. Waktu itu akan digelar pemungutan suara untuk memutuskan Quebec tetap menjadi bagian Kanada atau memisah menjadi negara sendiri.

Seringnya bertemu dengan Raisa, membuat perasaan Alif semakin tidak menentu saja. Saat ingin mengutarakan perasaannya, dia mendengar Raisa yang sedang ngobrol dengan teman kerjanya tentang syarat seorang pendamping untuknya. Mendengar syarat yang diucapkan Raisa tersebut Alif mengurungkan niatnya menyampaikan surat berisi curahan hatinya. Dan, memilih menunggu hingga lulus kuliah.

Saat wisuda, Alif bermaksud menyampaikan perasaan yang dipendamnya sejak mulai mengenal Raisa. Tetapi belum sempat berbicara, Raisa telah lebih dahulu memberikan kejutan dengan memberitahukan acara pertunangannya minggu depan dengan Randai, teman masa kecil Alif. Mendengar hal tersebut Alif urung menyampaikan surat yang sudah disimpannya bertahun-tahun tersebut.

Pesan dari novel ini sangat baik yaitu saat kita mempunyai keinginan dan berusaha untuk mencapainya maka lambat laun keinginan tersebut akan terwujud. Dengan cara yang tidak disangka-sangka asalkan kita mau terus bersabar dalam menghadapi segala rintangan..

Allah tidak mengabulkan semua permintaan kita, tetapi memilih yang sesuai dengan kemampuan kita. Tetap berpikir positif dengan segala sesuatu.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar. Insya Allah saya akan berkunjung balik. Bila berkenan bisa saling follow aku media sosial saya yang lain.

Like us on Facebook

Flickr Images